Catatan Hasil Lokakarya Memikir Ulang Desa – Kota di Kandangan, Temanggung

Gagasan untuk mempelajari bentuk dan sifat hubungan antara wilayah perdesaan dan perkotaan yang muncul sejak pertengahan tahun 2010 lalu akhirnya terwujud di Desa Kandangan. Selama tiga hari, Jumat – Minggu (04 – 06/03/2011), beberapa belas pegiat dan pemerhati lingkungan perdesaan dan perkotaan berkumpul di kediaman Singgih Susilo Kartono di desa yang terletak di utara kota Temanggung, Jawa Tengah tersebut. Tempat tersebut sengaja dipilih sebagai tempat lokakarya karena digunakan sebagai studi kasus dalam sesi belajar bersama ini. Dinamika pengelolaan pembangunan wilayah di Desa Kandangan dan sekitarnya oleh pemerintah setempat dihadapkan dengan gagasan-gagasan dan praktik-praktik inovatif kreatif dari warga setempat. Singgih Susilo Kartono dengan usaha desain kreatif radio kayu Magno-nya berupaya menjadi pelopor perubahan sosial di wilayah setempat. Wilayah desa yang mulai beranjak urban tersebut ternyata memiliki hubungan bukan hanya degan kota Temanggung yang dekat, tetapi justru lebih besar kaitannya denga Jakarta dan kota-kota besar di luar negeri tempat warga Kandangan bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia. Proses pengamatan, diskusi, dan analisis bersama atas kasus-kasus yang terjadi di Kandangan kemudian berhasil dirumuskan sebagai acuan awal menuju konsep dan metode untuk menata kembali hubungan antara perdesaan dan perkotaan.

Hari Pertama – Jumat, 4 Maret 2011

Sesuai jadwal, agenda lokakarya akan dibuka pada hari Jumat (04/03/2011) malam di kediaman Singgih Kartono. Tim program Lumbung Komunitas dari COMBINE Resource Institution (CRI) mengatur keberangkatan peserta pada Jumat siang agar bisa tiba di Kandangan, Temanggung pada sore hari sebelum Maghrib. Hingga hari Jumat tersebut, tercatat ada 11 orang yang berangkat dari kantor CRI, termasuk tim CRI. Dengan menggunakan tiga mobil, rombongan pun berangkat dari kantor CRI di Sewon, Bantul, D.I. Yogyakarta pada pukul 14.30. Empat orang peserta dijemput di perjalanan; satu orang di Dongkelan dan tiga orang di Jombor, Sleman. Satu peserta dari Deles, Klaten menunggu dengan sepeda motor di Salam, Magelang dan berjalan beriring hingga Temanggung dengan sepeda motor. Satu peserta dari Semarang langsung menuju Temanggung dengan kendaraan sendiri (daftar peserta terlampir di bagian ketiga tulisan ini).

Hujan tidak menjadi penghambat perjalanan dari Yogyakarta menuju Temanggung. Syukur rombongan dapat melewati jembatan Kali Putih di Jumoyo, Salam, Magelang tanpa hambatan. Kali yang berhulu di Gunungapi Merapi itu pada hari Jumat sore kembali banjir dan material banjir menutup jalan raya Yogyakarta – Magelang. Rombongan tiba di Hotel Indraloka di Jl. Suwandi Suwardi No. 3 Temanggung pada pukul 17.00. Seluruh peserta kemudian dibagi ke dalam 10 kamar hotel yang telah dipesan dan dipersilakan beristirahat hingga usai Maghrib. Usai istirahat, agenda dilanjutkan dengan makan malam pembukaan di restoran yang ada di hotel tersebut. Singgih Susilo Kartono hadir dalam makan malam itu. Usai makan malam, seluruh rombongan bertolak menuju Desa Kandangan dengan tiga mobil tambah satu mobil pribadi Singgih, untuk sesi presentasi dan diskusi pendahuluan.

Sudah ada tiga orang warga desa setempat yang sudah menunggu di kediaman Singgih, yakni Yuwono dan Dwi Utami (pasangan suami istri yang menjadi pengelola pertanian organik di lahan milik Singgih), serta Taufik, pejabat Kepala Seksi Pembangunan Desa Kandangan. Tanpa lama menunggu, Elanto Wijoyono (CRI) kemudian membuka acara tepat pada pukul 20.00, dilanjutkan dengan sesi perkenalan seluruh peserta. Malam itu diisi dengan sesi presentasi kunci dari Singgih Susilo Kartono (Magno – Piranti Works) dan Marco Kusumawijaya (Rujak Centre for Urban Studies). Singgih mempresentasikan profil kegiatan di perusahaan desain – kriya radio kayunya dan gambaran umum tentang kondisi setempat. Marco mempersentasikan secara singkat tujuan dari lokakarya ini kepada seluruh peserta, berikut penjelasan metode atau cara belajarnya.

Presentasi Singgih diawali dengan pemutara video tentang Magno yang diproduksi oleh sebuah stasiun televisi Jerman. Video tersebut menampilkan profil usaha Magno – Piranti Works yang dikelola oleh suami istri Singgih S. Kartono dan Tri Wahyuni. Usai penayangan video pendek tersebut, Singgih menyambungnya dengan presentasi. Presentasi Singgih diawali dari konsep usaha desain – kriyanya yang berlabel magno. Produksi desain – kriya yang sangat memperhatikan detail menjadi kekuatan usaha ini. Selain itu, produksi radio kayu Magno diperkuat pula dengan perwujudan konsep kelestarian dengan adanya program tree nursery yang digiatkan oleh Singgih dan timnya. Atas kegigihan produksi yang berlandaskan gagasan-gagasan kreatif dan didukung dengan pengelolaan sikap kerja yang disiplin, usaha radio kayu Magno ini pun telah mendapatkan beberapa perhargaan desain dan publikasi di media di tingkat internasional.

Usai pemaparan capaian kesuksesan usaha Magno, Singgih menyambungnya dengan presentasi tentang kondisi diri dan keluarganya sebelum berada pada kondisi saat ini. Keluarga Singgih adalah profil keluarga sederhana seperti keluarga di perdesaa pada umumnya. Hampir seluruh saudara Singgih saat ini bekerja di kota, atau di luar desa. Hal itu juga terjadi di banyak keluarga lain dan menjadi tantangan dalam proses pembangunan dan pengelolaa sumber daya di desa, dan juga di kota. Singgih menampilkan gagasannya tentang kelestarian dengan mengusulkan sebuah skema keseimbangan antara dinamika pengelolaan sumber daya di desa dan di kota. Salah satu mimpi utama Singgih adalah memadukan antara pertanian dan kerajinan, dan hal itu bisa dilakukan oleh desa sebagai komunitas masa depan. Dari gagasan itulah kemudian muncul pula konsep new craft, sebagai padanan dari konsep sistem industri kerajinan tanam terpadu. Inti sistem tersebut adalah memadukan teknologi dengan keahlian tanam. Konsep new craft ini menurut Singgih cocok untuk dikembangkan di daerah yang tidak punya kerajinan khas. Jadi, bisa muncul kegiatan ekonomi alternatif yang bisa menyerap tenaga yang tidak terserap oleh bidang pertanian.

Singgih memaparkan pula konsep economicology. Masalah ekologi adalah masalah ekonomi. Dari prinsip itulah Singgih merintis usaha Magno dengan metode less wood more works. Dia memilih produk yang kecil untuk diproduksi agar tidak memerlukan banyak kayu. Ada nilai guna yang lebih tinggi ketika kayu digunakan sebagai bahan desain kriya yang bernilai tinggi, dibandingka dengan jika kayu hanya digunakan sebagai kayu bakar. Pengelolaan kayu dengan nilai tambah yang besar tentunya akan menjamin bahwa kelestarian lingkungan akan lebih terjaga. Tiga dasar penting yang selalu dipegang teguh oleh Singgih adalah life – balance – limit. Dalam kehidupan ada batas yang harus selalu dijaga keseimbangannya. Seperti halnya dengan usaha yang digeluti oleh Singgih dengan radio kayunya. Singgih telah membuktikan bahwa dirinya bisa tetap bekerja dengan sumber daya yang terbatas tanpa harus mengorbanka ketersediaan sumber daya untuk generasi mendatang.

Usai paparan Singgih, Marco Kusumawijaya melanjutkan dengan sebuah uraia singkat. Dia menggarisbawahi konsep masalah ekologi adalah masalah ekonomi juga. Menyitir paradigma yang dibangu oleh seorang pastur dari Sanata Dharma, ada pengertian bahwa ekonomi dibentuk dari rangkaian kata oikos dan nomos, yang berarti norma rumah. Sementara, ekologi dibetuk dari rangkaian kata oikos dan logos, yang berarti nalar rumah. Jadi, masalah lingkungan muncul ketika manusia merumuskan norma-norma yang tidak sesuai dengan nalar. Akhirnya, masalah lingkungan menjadi masalah ekonomi.

Salah satu cara untuk memasuki hal desa – kota ini adalah dengan memperhatikan soal ecological footprint. Orang selalu bilang bahwa kota selalu menyerap seluruh sumber daya dan dinikmati untuk jumlah orang yang sedikit. Selama ini soal desa dan kota hanya dilihat satu arah; seolah desa selalu disedot oleh kota. Marco menegaskan bahwa sekarang saatnya untuk memikirkan kembali hubungan yang sejati antara desa dan kota, sebagai batu kunci ke masa depan. Jalan menuju kelestarian ada di sana. Lestari itu adalah upaya aktif untuk mengembalikan keadaa pada kondisi semula. Dalam rangka menuju tataran tersebut, hubungan desa dan kota perlu diperdebatkan kembali. Upaya yang dilakukan Singgih adalah perwujudan energi kreativitas. Energi dan praktik ini bisa dipelajari untuk ditularkan ke daerah lain.

Sesi pertama ini kemudian ditutup dengan pemberian tugas kepada seluruh peserta. Seluruh peserta diminta untuk menggambarkan visinya tentang hubungan desa dan kota yang ideal di selembar kertas. Gambar tersebut akan didiskusikan dan dipresentasikan pada sesi diskusi berikutnya di hari kedua lokakarya. Setelah penugasan tersebut, sesi diskusi ditutup pada pukul 22.00 dan peserta kembali pulang ke hotel untuk beristirahat.

bersambung…

(Elanto Wijoyono)