Catatan Hasil Lokakarya Memikir Ulang Desa – Kota di Kandangan, Temanggung

Hari Kedua – Sabtu, 5 Maret 2011

Sesi pertama di hari kedua ini terlambat dimulai disebabkan mobil angkutan pedesaan yang disewa untuk menjemput peserta dari hotel ke Kandangan terlambat tiba. Agenda jelajah desa yang awalnya direncanakan pada pukul 08.00 harus diundur hingga satu jam. Jelajah desa pun dilakukan dengan menggunakan dua mobil, yakni mobil Kijang Krista dan mobil angkutan pedesaan. Peserta diajak berkeliling desa, melihat sudut-sudut kondisi wilayah perdesaan yang tampak dengan kombinasi lahan pertanian, perkebunan, permukiman, dan tempat-tempat usaha jasa dan perdagangan. Di mobil Krista, Singgih duduk sambil menjelaskan keadaan kepada peserta lokakarya yang turut semobil. Sementara, di mobil angkutan desa ada dua warga setempat, Taufik dan Mukidi, yang turut berkeliling dan memberikan penjelasan kepada peserta lokakarya selama dalam perjalanan memutar desa.

Jelajah desa selesai pada pukul 10.00 dan kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi lokasi workshop (bengkel kerja) perusahaan radio kayu Magno, Piranti Works. Dalam sebuah gedung kokoh di dalam lahan yang sama dengan rumah Singgih, usaha produksi radio kayu itu dikerjakan oleh pekerja muda usia yang berasal dari warga setempat. Peserta lokakarya diajak berkeliling, mulai dari tempat pembibitan tanaman pohon, ruang penyimpanan kayu bahan produksi, kemudian lanjut ke ruang proses produksi, dari tahap demi tahap; dari awal proses hingga bagian pengemasan. Seluruh peserta tampak antusias melihat seluruh detail kegiatan yang terpampang di hadapan mata dan memancing diskusi selama jelajah workshop yang dipandu langsung oleh Singgih itu dilakukan.

Pukul 10.45, usai istirahat sejenak, Marco Kusumawijaya sebagai fasilitator kemudian meminta seluruh peserta untuk berdiskusi dalam kelompok. Peserta dibagi dalam tiga kelompok untuk mempresentasikan pekerjaan rumah; gambaran tentang hubungan desa dan kota yag ideal. Setiap orang diminta untuk melakukan presentasi di kelompok masing-masing tentang gagasannya dan kemudian melakuka diskusi bersama untuk merumuskan visi kelompok untuk 20 tahun ke depan tentang hal yang sama. Visi kelompok itu digambarkan sebagai sebuah gambar, tanpa tulisan, di atas kertas besar dan dipresentasikan di forum pleno. Dari ketiga rumusan visi setiap kelompok, ada beberapa kesamaan dan perbedaan. Kesamaan yang paling nyata adalah gagasan tentang adanya hubungan kembali desa dan kota yang seimbang. Semua presentasi kelompok menggunakan kata seimbang, balance, dan harmoni. Perbedaannya ada di strategi.

Kelompok dua menggunakan gagasan strategi pengetahuan untuk menuju keseimbangan hubungan yang ideal. Kelompok tiga mengusulkan adanya suatu institusi atau wilayah ambang, tempat desa dan kota bisa berhubungan dengan baik dan optimal. Pada kelompok dua, menarik, bahwa tetap ada gambaran kepercayaan terhadap negara dengan simbol payung. Payung tersebut dapat pula dimaknai sebagai ketahanan sosial dari ancaman bencana dan sebagainya. Kelompok pertama memiliki gagasan lain yang menarik karena mengakui pentingnya industrialisasi. Gagasan itu menuju pada konsep ecological ecoomic, bahwa norma pengelolaan bumi harus bertumpu pada nalar bumi.

Usai diskusi pada sesi presentasi kelompok ini, ada waktu istirahat sejenak untuk melaksanakan sholat Ashar. Tepat pukul setengah empat, sesi berikutnya diisi dengan berbagi pengalaman dan pengetahuan pengelolaan pembangunan kawasan perdesaan. Elanto Wijoyono mengawali sesi dengan memberikan pengantar tentang profil singkat Desa Terong di Bantul dan sosok-sosok pelopornya. Kepala Desa Terong Sudirman Alfian yang diundang hadir dalam lokakarya kemudian memberikan presentasi tentang pengalaman Desa Terong membangun desa dengan mendasarkan diri pada aset atau sumber daya yang dimilikinya.

Sudirman mengawali paparannya dengan menjelaskan posisi desa yang sangat lemah. Sebagai daerah otonom, otonomi desa saat ini adalah otonomi semu. Desa tak pernah punya kekuasaan penuh untuk mengatur dan mengelola pembangunan desa, tanpa bayang-bayang pemerintah kabupaten dan pusat. Selain itu, masih kuat adanya stigma negatif tentang desa, bahwa desa adalah daerah yang tertinggal dan terbelakang. Isu desa selama ini tak muncul sebagai isu yang seksi bagi pemerintah.

Desa, menurut Sudirman, harus berubah melalui perubahan di sisi internal desa. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah dengan menjalankan prinsip keterbukaan. Keterbukaan, menurutnya, adalah pilar kokoh dari sebuah pemerintahan agar selalu dapat dipercaya oleh rakyat yang memberikan mandat. Hubungan yang seimbang kemudian harus dilihat juga pada aspek tata kelola pemerintahan. Harus ada pelayanan di desa dengan standard operasi yang baik, sangkil, dan mangkus. Hal berikutnya adalah transparansi keuanga desa yang juga menjadi tiang penyangga kekuatan lembaga desa. Sudirman sendiri kemudian menitipka pertanyaan kepada forum tentang bagaimana sebuah langkah percepatan atau akselerasi untuk memperbaiki kualitas desa itu dapat dilakukan. Lontaran dari sang kepala desa ini pun kemudian menjadi pancingan diskusi yang tajam dan mendalam hingga jelang Maghrib.

Usai istirahat, sholat Maghrib, dan makan malam, agenda lokakarya dilanjutkan dengan sesi diskusi kelompok. Dari sesi sebelumnya bersama Sudirma Alfian, ada masukan penting tentang bagaimana membangun demokratisasi di desa. Dalam diskusi malam kedua ini peserta diajak untuk membahas bagaimana jika prinsip-prinsip ini juga diterapkan di Desa Kandangan dan juga desa-desa lainnya. Dalam waktu satu jam, Marco Kusumawijaya meminta peserta dibagi dalam tiga kelompok dan membahas rangkuman visi dan misi dalam kalimat. Rumusan tentang visi dan misi ini kemudian dipresentasikan dalam forum pleno malam tersebut, sebagai bekal untuk menuju pembahasan agenda tindak lanjut di hari terakhir lokakarya.

Pada pukul 20.45, ketiga kelompok telah selesai berdiskusi dalam kelompok dan siap mempresentasikan visi dan misi yang telah dirumuskan di kelompok masing-masing. Visi dan misi dari ketiga kelompok tersebut adalah sebagai berikut:

Kelompok I

Visi        :
Terciptanya masyarakat desa dan kota yang seimbang, dinamis, dan demokratis

Misi        :
Mengembangkan pola komunikasi yang transparan, adil, strategis, dan jujur

Kelompok II

Visi        :
opsi 1 – Terbangunnya masyarakat mandiri dan lestari berdasarkan prinsip keadilan
opsi 2 – Terbangunnya ruang-ruang masyarakat yang kreatif, produktif, dan dinamis untuk kelestarian dan keadilan
opsi 3 – Terbangunnya masyarakat yang kreatif, produktif, dan dinamis dalam ruang yang lestari dan berkeadilan

Misi        :
1. Membuat ruang-ruang pertukaran pengetahuan
2. Membangun kesadaran ekologis masyarakat
3. Mengembangkan motivasi dan kemampuan masyarakat

Kelompok III

Visi        :
Jalinan desa kota yang tumbuh kembang dalam pemanfaatan sumber daya secara lestari dan berdaya guna

Misi        :
1. Mewujudkan jalinan desa kota yang berkesinambungan dengan pengembangan sarana dan prasarana komunikasi
2. Mewujudkan pemanfaatan sumber daya alam lestari dan sumber daya manusia berkemampuan

Usai pemaparan visi dan misi hasil diskusi kelompok ini, peserta kembali pulang ke hotel di kota Temanggung pada pukul 21.00. Sebelum pulang, sempat terjadi satu kejadian menarik ketika Mart Widarto (CRI) diceburkan ke kolam ikan di depan rumah Singgih karena dirinya berulang tahun. Walaupun Mart tidak basah kuyup seluruh badan, tetapi kejadian itu cukup menyegarkan suasana usai diskusi yang tak ringan yang telah berlangsung sepanjang hari.

bersambung…

(Elanto Wijoyono)