Catatan Hasil Lokakarya Memikir Ulang Desa – Kota di Kandangan, Temanggung

Hari Ketiga – Minggu, 6 Maret 2011

Hari terakhir lokakarya di kediaman Singgih Susilo Kartono di Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah dimulai cukup pagi, yakni pukul 08.00. Sindu, seorang peserta dari Solo, Jawa Tengah membacakan kembali rumusan visi dan misi yang telah disusun pada malam sebelumnya. Marco Kusumawijaya kemudian kembali membantu peserta lokakarya untuk mencari benang merah dari ketiga rumusan yang tertera di hadapan forum.

Sholahuddin Aly dari Solo, Jawa Tengah menuliskan beberapa kata kunci dan menempelkanya di depan forum. Kata-kata kunci tersebut antara lain “lestari”, “keseimbangan”, “keadilan”, “komunikasi”, dan “ruang pertukaran pengetahuan”, serta “dinamis”. Dari diskusi yang berlangsung kemudian, ada kata yang paling penting untuk diperhatikan, yakni kata “masyarakat”. Masyarakat itu sendiri dapat dimaknai sebagai suatu jalinan, begitu pula ruang; kecuali pada entitas tertentu yang terasing. Jalinan adalah kata sifat yang kemudian diusulkan ke forum untuk dipakai dalam kalimat yang lain, seperti jalinan masyarakat mandiri dan lestari dan seterusnya. Gagasan itu akan makin berbunyi ketika disebutkan ada unsur komunikasi. Dalam proses menyusun misi, proses pendetailan bisa terus dilakukan. Hal itu bisa dilakukan bersama penduduk atau pemuda desa setempat secara terus-menerus.

Usai diskusi tentang perumusan visi dan misi, langkah selanjutnya adalah merencanakan agenda tindakan, yang ditujukan untuk dua ranah. Pertama, apa yang bisa ditindaklanjuti untuk Desa Kandangan. Kedua, apa yang bisa ditindaklanjuti untuk diri kita atau ruang kegiatan setiap peserta lokakarya. Hal itu bisa diwujudkan bagi diri sebagai dua kapasitas, yakni sebagai diri pribadi dan pribadi dalam organisasi. Agenda tersebut dirumuskan berdasarkan visi dan misi yang telah didapatkan dari sesi-sesi sebelumnya.

Keluaran / Output Lokakarya

Lokakarya ini digelar dengan tujuan untuk belajar tentang pengelolaan keadaan lingkungan desa menuju visi pembangunan komunitas dan wilayah berbasis aset/sumber daya lokal. Hasil pembelajaran yang diharapkan didapat adalah prinsip-prinsip perencanaan desa dalam perspektif kelestarian dan kaitannya dengan proses urbanisasi yang sedang terjadi. Dari proses obeservasi dan analisis bersama dengan studi kasus Desa Kandangan, peserta memberikan rekomendasi atau usulan solusi atas hal yang diangkat untuk dipecahkan atau dikembangkan. Hasil observasi dan analisis tersebut merupakan satu model kajian awal yang akan disampaikan sebagai dasar perencanaan pembangunan komunitas pada satu atau beberapa bidang di lingkungan Desa Kandangan. Komunitas dan pemerintah setempat akan dituju sebagai sasaran kajian dan penerapan model yang dihasilkan. Sebuah mekanisme monitoring penerapan model pembangunan tersebut akan dibangun dalam lokakarya ini pula. Model metode yang sama kemudian akan dapat diterapkan di tempat-tempat lain, baik di perdesaan maupun di perkotaan, sebagai langkah untuk menguji hipotesis.

Salah satu rekomendasi muncul dari forum diskusi, yakni memetakan potensi desa tanpa menggunakan metode pemetaan konvensional. Pemetaan potensi sumber daya setempat dilakukan dengan melalui pendekatan manajemen kegiatan untuk masyarakat desa. Tanggapan atau respon masyarakat terhadap kegiatan yang dilangsungkan kemudian dapat dianalisis sebagai sebuah peta sosial.

Forum juga merekomendasikan adanya ruang-ruang interaksi bagi publik di Desa Kandangan yang bisa dibangun untuk mengoptimalkan prinsip pembangunan masyarakat melalui jalinan komunikasi. Kediaman Singgih Susilo Kartono diusulkan untuk dibuat lebih terbuka bagi publik desa setempat dan terdapat satu unit komputer publik yang terhubung dengan internet.

Pada sisi pemerintah desa, muncul rekomendasi untuk memperbaiki kualitas kinerja pelayanan publik. Mencontoh dari pengalaman Desa Terong dengan sistem informasi desanya, perangkat Desa Kandangan akan disiapkan untuk membangun sistem pelayanan publik yang lebih optimal dengan dukungan teknologi informasi. Satu langkah untuk membangun tahap-tahap menuju sistem pengelolaan informasi dan pengetahuan desa yang baik akan dilakukan mulai pertengahan bulan Maret 2011. Satu agenda kunjungan ke Desa Terong dijadwalkan pada tanggal 14 Maret 2011. Rangkaian lokakarya menuju pembangunan sistem tersebut akan dimulai pada awal April 2011.

Potensi di lingkungan anak-anak juga menjadi satu pokok perhatian. Desa Kandangan ternyata telah memiliki satu perpustakaan umum yang saat ini tidak dikelola dengan optimal. Rekomendasi untuk memperbaiki kualitas pengelolaan perpustakaan dengan titik tujuan pada anak-anak dimunculkan. Perhatian pada kelompok anak akan memberi imbas kegiatan pada kelompok ibu-ibu, sehingga program kegiatan di ranah pendidikan publik bisa lebih efektif dilakukan.

Penguatan sistem komunikasi warga juga diusulkan untuk dilakukan. Gagasan untuk membuat satu stasiun radio komunitas di Desa Kandangan dimunculkan. Radio komunitas ini akan dibangun sebagai wadah ekspresi warga dan ruang publik yang terbuka. Melalui institusi tersebut, tahap-tahap pendidikan publik desa setempat untuk menuju perubahan perilaku untuk perubahan sosial di tingkat desa dapat diwujudkan setahp demi setahap.

Pada sisi hasil pertania dan perkebunan, muncul gagasan dari forum tentag optimalisasi pengelolaan hasil panen kopi. Diusulkan untuk membentuk satu kelompok kerja sederhana yang melibatkan para petani kopi sebagai ruang belajar untuk menambah nilai guna kopi yang dihasilkan oleh Desa Kandangan. Metode yang sama bisa pula digiatkan bersama kelompok warga yang bekerja membuat makanan tradisional setempat, seperti entho cothot.

Seluruh hal yang menjadi rekomendasi di atas akan dikerjakan bersama oleh jaringan kerja yang terbentuk dalam forum lokakarya ini. Agenda kegiatan akan dimulai dari bulan Maret 2011 ini dan diteruskan pada bulan-bulan selanjutnya dengan kesepakatan antar pihak yang bersedia melibatka diri.

Capaian / Outcome Lokakarya

Lokakarya di desa di satu wilayah di Temanggung ini diikuti oleh peserta yang hadir dari beragam latar belakang disiplin ilmu, minat, dan kegiatan. Mereka berasal baik dari perkotaan maupun perdesaan. Sesi belajar bersama selama tiga hari di Kandangan telah mampu membangun satu kesepahaman untuk bersedia bekerja bersama membangun model pengelolaan sumber daya perdesaan dan perkotaan secara lestari, dengan masyarakat sebagai subjek utamanya. Satu model kegiatan disepakati akan dilakukan di Desa Kandangan, Temanggung untuk jangka waktu yang belum ditentukan. Proses pembangunan model ini akan berposisi sebagai sebuah laboratorium belajar yang bisa diakses oleh beragam kelompok/pihak yang berminat pada studi hubungan desa dan kota, kaitannya dengan sistem pengelolaan sumber daya lokal.

Jalinan pemahaman antar peserta lokakarya mengenai hubungan desa dan kota yang lestari telah terbangun. Jalinan ini diarahkan untuk dapat dikembangkan sebagai jalinan atau jaringa kelembagaan yang dapat mempelajari, menggiatkan, dan mengembangkan model-model pembangunan komunitas/masyarakat di perdesaan dan perkotaan secara bersama-sama. Satu ruang pertukaran pengetahuan dalam ranah ini telah terbangun dengan memanfaatkan komunikasi antar kelompok atau lembaga. Tim program Lumbung Komunitas CRI berperan untuk mengelola ruag pertukaran pengetahuan antar lembaga dan antar wilayah ini sebagai satu strategi untuk menuju terbentuknya jaringan kerja pembangunan komuitas berbasis aset di aras nasional.

Daftar Peserta Lokakarya

1. Akhmad Nasir (COMBINE Resource Institution – Yogyakarta)
2. Ardian Pratomo (Yayasan Solo Kota Kita – Solo)
3. Bambang Hery (IDEA – Yogyakarta)
4. Dambung Lamuara Djaja (KERUPUK – Yogyakarta)
5. Didi Sugandi (COMBINE Resource Institutio – Yogyakarta)
6. Dwi Utami (Desa Kandangan – Temanggung)
7. Elanto Wijoyono (COMBINE Resource Institution – Yogyakarta)
8. Ferry Agusta Satrio (Peta Hijau Malang – Malang)
9. Iman Abdurrahman (Jaringan Radio Komunitas Indonesia – Bandung)
10. Jaka Sulistya (Desa Terong – Bantul)
11. Marco Kusumawijaya (Rujak Center for Urban Studies – Jakarta)
12. Maria Carmelia (Peta Hijau Yogyakarta – Yogyakarta)
13. Mart Widarto (COMBINE Resource Institution – Yogyakarta)
14. Miftahul Arrozaq (Pusat Studi Lingkungan Universitas Muhammdiyah Surakarta – Solo)
15. Nugroho (Desa Kandangan – Temanggung)
16. Rama W. Putra (PMLP Soegijapranata – Semarang)
17. Saiful Bakhtiar (COMBINE Resource Institution – Yogyakarta)
18. Sholahuddin Aly (Seknas Kaukus 17++ – Solo)
19. Sindu Dwi Hartanto (Seknas Kaukus 17++ – Solo)
20. Singgih Susilo Kartono (Magno – Piranti Works – Temanggung)
21. Sudirman Alfian (Kepala Desa Terong – Bantul)
22. Sukiman Mohtar Pratomo (Radio Komunitas Lintas Merapi – Klaten)
23. Taufik (Desa Kandangan – Temanggung)
24. Tri Wahyuni (Magno – Piranti Works – Temanggung)
25. Yuwono (Desa Kandangan – Temanggung)

(Elanto Wijoyono)