Rumusan Gagasan Pembangunan Lumbung Komunitas di Awal Program

COMBINE Resource Institution (CRI) mengembangkan sistem informasi untuk pengelolaan sumberdaya komunitas melalui program Lumbung Komunitas (LK). Program LK merupakan pengintegrasian dari beberapa program -baik yang dilakukan oleh COMBINE maupun kerjasama dengan mitra- yang memiliki kemiripan. Program tersebut adalah Sistem Informasi Desa (SID), Pasar Tani Alami (bersama Lesman), dan Lumbung Daya (bersama SPPQT). Pada periode tahun 2010 – 2010, Lumbung Komunitas dirancang sebagai program yang bisa melakukan integrasi sistem di atas dengan beberapa jenis kegiatan, meliputi:

  • 1. Pemetaan sumber daya komunitas secara partisipatif
  • 2. Peningkatan kapasitas bagi pengelola LK
  • 3. Pengintegrasian aplikasi SID, Pasar Tani, dan Lumbung Daya
  • 4. Pendampingan lapangan
  • 5. Pendampingan teknis

.

Selama dua tahun program (2010 – 2011), program Lumbung Komunitas diharapkan dapat mencapai hasil meliputi:

  • 1. Peta potensi sumber daya komunitas
  • 2. Pelatihan pemanfaatan sistem bagi pengelola Lumbung Daya minimal 2 (dua) orang di setiap lokasi
  • 3. Aplikasi Lumbung Daya yang telah terintegrasi dan siap diluncurkan ke publik dengan lisensi open source

.

Dalam mencapai hasil tersebut, ada beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilkan proses pelaksanaan progam, meliputi:

  • 1. Peta sumber daya di 3 (tiga) lokasi yang telah terintegrasi dengan aplikasi LK
  • 2. Pada setiap lokasi program LK terdapat pengelola yang mampu mengoperasikan aplikasi Lumbung Daya secara optimal
  • 3. Aplikasi Lumbung Daya dimanfaatkan oleh komunitas lain di luar lokasi program

.

Pelaksanaan program di atas dirancang dijalankan oleh tim program LK yang meliputi:

  • 1. Fasilitator Program LK
  • 2. IT specialist
  • 3. Fasilitator community development
  • 4. Knowledge management officer

.

 

Lumbung Komunitas dalam Dua Tahun Perjalanan Program

.

Pada awal tahun 2010, Akhmad Nasir (2010) menuliskan konsep dasar Lumbung Komunitas. Lumbung Komunitas (LK) digunakan sebagai istilah untuk menyebut platform yang disediakan bagi komunitas untuk mempermudah pengelolaan sumber daya. Sumber daya yang dikelola berupa pengetahuan, kekayaan alam dan potensi lain yang bisa dikelola untuk mendukung kemandirian komunitas. Kemandirian komunitas menjadi salah satu kunci penting dalam upaya penguatan masyarakat. Kemandirian adalah situasi dimana suatu komunitas mampu mengelola sumberdaya yang mereka miliki sebagai modal utama untuk mengatasi masalah maupun mengembangkan diri secara koletif menuju situasi yang lebih baik. Kemampuan mengelola sumberdaya juga menjadi syarat penting agar suatu komunitas bisa meminimalkan ketergantungan dari pihak lain. Sedikit atau banyak setiap komunitas memiliki sumber daya yang sangat penting. Sumber daya yang dimaksud bisa berupa sumber daya yang bersifat fisik (tangible) maupun non-fisik (intangible). Dalam kenyataannya kekayaan sumberdaya tersebut seringkali tidak disadari secara kolektif. Kondisi ini menyebabkan sumberdaya yang dimiliki oleh suatu komunitas kurang terkelola secara optimal. Lumbung Komunitas adalah konsep pemanfaatan sistem informasi sebagai alat bantu (instrumen) pengelolaan sumberdaya berbasis komunitas. Sebagai sebuah konsep generik, Lumbung Komunitas bisa diterapkan oleh pelbagai pihak di wilayah yang berbeda dengan jenis sumber daya yang berbeda dan dengan nama yang berbeda. Substansinya adalah upaya mengoptimalkan fungsi informasi-komunikasi untuk pengelolaan sumber daya berbasis komunitas sehingga suatu komunitas menjadi lebih mandiri.

.

Berdasarkan konsep di atas, Lumbung Komunitas dikembangkan dengan tujuan untuk mempermudah komunitas dalam:

  • 1. Menemukenali potensi sumber daya yang bisa dioptimalkan untuk mendukung kemandirian secara kolektif
  • 2. Menjadi sistem pendukung yang mudah, murah dan terjangkau untuk pengelolaan sumber daya komunitas secara berkelanjutan
  • 3. Memudahkan komunitas untuk bekerjasama dengan pihak lain dalam hubungan saling tergantung (interdependen) dan saling menguntungkan (mutualistik)

.

Dalam proses telaah yang dilakukan selama program berjalan, didapat sebuah pemahaman bahwa seluruh wujud itu dapat dikelola dalam satu sistem saja, yang kemudian kita sebut sebagai Sistem Informasi Desa (SID). Sebagai sebuah platform, SID kemudian dibangun dengan strategi untuk melayani komunitas dalam unit desa. Pemerintahan di tingkat desa sebagai muara sistem pengelolaan data dan informasi di tingkat desa menjadi pelaku pengelola sistem, sekaligus sebagai agen perubahan di tingkat komunitas. Sumber daya kemudian diterjemahkan dalam tiga bagian utama, yakni penduduk, keuangan, dan aset. Penerapan SID bisa dilakukan secara mandiri oleh suatu desa. Namun jika diterapkan secara bersama oleh desa-desa dalam suatu wilayah administratif (kecamatan/kabupaten) maupun kawasan dengan kesamaan kepentingan  hutan/laut/gunung) maka akan bisa digunakan untuk melakukan konservasi dan atau pengembangan suatu kawasan secara terpadu.

.

Pembangunan dan pengembangan SID sebagai sebuah platform diarahkan untuk bisa dilakukan dalam kerangka kerja 5 tahun. Tahun 1 (pertama) adalah tahap menemukan model sistem yang telah digunakan di tingkat desa dan merintis pengembangan sistem yang lebih baik untuk komunitas, yakni SID. Tahap ini telah kita kerjakan dalam periode tahun 2010. Tahun 2011 ini adalah tahun kedua program, yang diarahkan untuk bisa menerapkan SID di tingkat desa dengan mengintegrasikan ketiga bagian/module data yang dikelola; kependudukan, keuangan, dan aset. Pada tahun kedua ini juga direncanakan bisa dilakukan langkah inisiasi penerapan SID di wilayah perkotaan. Tahun 3 (tiga), yang bisa direncanakan untuk periode 2012, memiliki agenda untuk menerapkan SID dalam skala wilayah, jejaring antar satuan komunitas desa/kelurahan, baik di perdesaan maupun perkotaan. Dalam tahun ketiga ini pula diharapkan SID telah dapat diujicoba kebermanfaatannya dalam skala kawasan, dalam konteks hubungan desa – kota. Tahun 4 (empat) SID diarahkan telah teruji dalam skala antar wilayah, baik di perdesaan maupun di perkotaan, untuk mempertegas kebermanfaatannya dalam jejaring informasi sumber daya antar komunitas lintas batas. Tahap keempat ini menjadi tonggak menuju tingkat nasional, sehingga promosi besar SID untuk skala nasional dapat dilakukan pada periode yang diharapkan dapat dilakukan di tahun 2013 ini. Dalam periode ini pula, sebagai sebuah platform bersama, SID ditargetkan telah dapat dirilis sebagai aplikasi terbuka (open source). Jika tahap-tahap tersebut telah dapat berjalan, maka di tahun 5 (kelima), CRI dapat berperan mengawal penerapan SID sebagai platform LK di kawasan perdesaan dan perkotaan dalam skala nasional.

.

Tim CRI telah berkomunikasi secara khusus dengan kelompok-kelompok pemerintah desa dan masyarakat desa sejak tahun 2008 sebagai langkah awal pembangunan Sistem Informasi Desa. Gagasan sistem yang muncul dari pihak desa kemudian berhasil diterjemahkan sebagai aplikasi berbasis komputer oleh tim CRI yang produk purwarupanya diujicobakan di Desa Terong, Bantul, D.I. Yogyakarta dan Desa Balerante, Klaten, Jawa Tengah pada pertengahan tahun 2009. Ujicoba diperluas ke wilah desa-desa di Kabupaten Bantul, Klaten, dan Magelang pada tahun 2010. Produk tersebut menjadi dasar pengembangan rilis resmi aplikasi Sistem Informasi Desa 1.0 pada bulan April 2011. Tahun 2011 menjadi tonggak dimulainya proses ujicoba Sistem Informasi Desa di Kabupaten Gunungkidul dan Temanggung.

.

Selama dua tahun berjalan, program LK telah berhasil mencapai hasil sebagai berikut:

  • 1. Aplikasi SID telah terbangun sebagai aplikasi yang mampu mengintegrasikan module pengolah data kependudukan, keuangan, dan aset komunitas. Format databasenya telah terintegrasikan pula dengan format database sistem yang diterbitkan dan digunakan oleh pemerintah. Jadi, SID dapat digunakan oleh komunitas, dalam tahap ini adalah pemerintah dan masyarakat desa, dengan tetap memenuhi kebermanfaatan yang disyaratkan oleh konstitusi negara. SID telah memposisikan diri sebagai aplikasi yang tidak memisahkan diri dari sistem yang telah ada dan mapan. SID berperan sebagai pengisi celah kekosongan layanan administrasi dan olah data untuk pengelolaan pembangunan komunitas di tingkat desa. Wujud aplikasi SID di tahun 2011 ini adalah wujudnya dalam versi rilis publik kedua yang akan terus dikembangkan.
  • 2. Konsep LK telah terinisiasi dan terbangun di lebih dari tiga wilayah tingkat kabupaten, walaupun jumlah komunitas pelakunya di setiap kabupaten berbeda. Konsep LK yang diwujudkan dengan adanya proses pembangunan dan pemanfaatan aplikasi SID telah terbangun di wilayah Kabupaten Bantul dan Gunungkidul di D.I. Yogyakarta, serta di wilayah Kabupaten Klaten, Magelang, dan Temanggung di Jawa Tengah. Sesuai dengan kesepakatan dalam rapat koordinasi program CRI pada akhir Agustus 2011 lalu, LK selama sisa periode program di tahun kedua ini akan fokus dalam intensifikasi penerapan LK di tiga komunitas saja, yakni di Desa Terong (Bantul), Desa Talun (Klaten), dan Desa Kandangan (Temanggung). Namun, di luar proses intensifikasi tersebut, kegiatan pembangunan jejaring antar komunitas (desa) pengguna SID di skala wilayah juga dilakukan. Proses tersebut secara intensif coba diinisiasi di wilayah Kabupaten Bantul, bekerja sama dengan kantor PMD Kabupaten Bantul. Proses inisiasi serupa juga diupayakan di wilayah Kabupaten Gunungkidul bekerjasama dengan Bappeda setempat yang diinisiasikan oleh tim IDEA.

.

 

Merajut Masa Depan Lumbung Komunitas

.

Studi yang dilakukan oleh tim Unit Strategis CRI pada pertengahan tahun 2011 menerakan ada empat faktor yang mempengaruhi keberhasilan penerapan SID di satu wilayah atau komunitas. Empat fator tersebut meliputi perangkat lunak (software), perangkat keras (hardware), perangkat/kapasitas manusia (humanware), dan perangkat/kapasitas sosial (socioware). Dalam kerangka tersebut, satu rumusan metode yang bisa dilakukan untuk pengembangan SID dalam platform LK dapat diusulkan sebagai berikut:

.

Tabel Isu dan Metode Pengembangan LK
Isu Metode Modal

perangkat lunak (software)

development

                 ?
perangkat keras (hardware) networking, community organizing

 ?

perangkat/kapasitas manusia (humanware) capacity building

 ?

perangkat/kapasitas sosial (socioware) networking, community organizing

 ?

.

 

Bagaimana isu di atas dikelola dengan metode yang diusulkan? Perlu beberapa pendekatan yang harus disepakati sebagai dasar pembangunan platform. Diskusi tentang pendekatan yang mungkin dimunculkan, meliputi:

  • 1. PARTISIPATIF atau TEPUSAT
  • 2. TERBUKA atau TERTUTUP
  • 3. INTENSIFIKASI atau EKSTENSIFIKASI

.

Dalam prosesnya sebagai perwujudan dari penerapan program di CRI, tentu saja rumusan strategi pendekatan dan metode di atas tak lepas dari bentuk koordinasi atau manajemen yang dilakukan. Diskusi dalam ranah manajemen penerapan program dapat dilakukan dengan fokus sebagai berikut:

  • 1. Manajemen program internal: lintas program, lintas divisi
  • 2. Manajemen program eksternal: lintas lembaga, jejaring para pihak

(Elanto Wijoyono)