Kunjungan Desa Kandangan ke Desa Terong di Bantul

Menengok sejenak bangunan pondasi lumbung di tengah bulan berjalan, beberapa catatan didapatkan untuk segera dicarikan jalan penyelesaian. Pondasi ini belum cukup kokoh, tetapi titik-titik sudut dan pusatnya telah terpastika sejak tahun lalu. Belum ada separuh bagian pondasi yang telah tersusun rapi dan kuat. Namun, pengerjaan terus berlangsung. Sumber bahan dan dukungan tenaga serta pikiran masih cukup banyak, sehingga bisa mengejar target terbangunnya pondasi di tahun ini sebelum dikembangkan sebagai sebuah bangunan lumbung yang sesungguhnya.

Bulan ketiga di tahun 2011 ini diawali dengan langkah penguatan modal sosial untuk mendukung terbangunnya konsep lumbung komunitas. Mendasarkan diri pada prinsip bahwa hubungan antar komunitas akan berada pada sifat yang saling tergantung dan mutualistik, langkah membangun jaringan pembangunan komunitas berbasis aset pun dimulai sejak awal. Hasil diskusi panjang selama satu tahun sebelumnya mendapatkan gambaran bahwa komunitas di perdesaan yang kaya dengan sumber daya/aset selalu terkalahkan dengan pembangunan wilayah perkotaan dalam prioritas. Sementara, kota-kota sendiri memiliki beban masalah yang tak ringan dengan laju urbanisasi dan biaya mendatangkan bahan baku hingga biaya produksi yang semakin meningkat. Kredo “desa mengepung kota” untuk landasan gerakan perlawanan hegemoni pembangunan wilayah perkotaan pun coba didekonstruksi. Nyatanya, kondisi kota-kota yang tak sehat saat ini terkait erat dengan kondisi desa-desa yang mejandi penyangganya atau bahkan desa-desa yang jauh dari wilayah itu sendiri, tetapi terkait dalam alur produksi – konsumsi. Membangun desa (untuk) membantu kota pun digagas sebagai landasan pikir baru untuk membangun masyarakat perdesaan dan perkotaan secara utuh.

Lokakarya yang digelar di Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah pada 4 – 6 Maret 2011 lalu menghadirkan para peserta yang berlatar belakang pendidikan, minat, dan kerja di ranah pembangunan masyarakat dan wilayah, baik di perdesaan maupun perkotaan. Peserta dari kota Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Solo, Semarang, dan Malang bertemu dengan peserta dari Bantul, Temanggung, dan Klaten untuk berbagi visi tentang gagasan hubungan (interaksi) antara desa dan kota yang ideal, sebagai jalan menuju kelestarian. Pemahaman bersama pun terumuskan; berkaca dari studi kasus di Desa Kandangan. Prinsip keseimbangan atau keadilan dalam pendayagunaan aset atau sumber daya lokal menjadi utama dalam pembangunan masyarakat, di perdesaan maupun di perkotaan. Prinsip itu akan mengarah pada pembentukan konsep jalinan masyarakat mandiri dan lestari.

Hasil belajar bersama di Temanggung itu tentu saja akan terus dilanjutkan dalam kerangka inisiasi pembentukan jaringan pembangunan komunitas berbasis aset di tingkat nasional. Satu model pembangunan jalinan masyarakat mandiri dan lestari akan diterapkan di Kandangan sebagai proyek bersama yang dikerjaka oleh seluruh kelompok yang terlibat dalam lokakarya ini. Kandangan sebagai laboratorium belajar akan semakin lengkap dengan pembangunan model-model serupa di wilayah perdesaan atau perkotaan lainnya, dimulai dari kelompok tempat para peserta lokakarya berasal atau bekerja. Ruang pertukaran pengetahuan dibentuk sebagai wadah berbagi pengalaman dan pengetahuan hasil uji hipotesis yang terumuskan dalam lokakarya akhir pekan lalu.

Salah satu ruang pertukaran pengetahuan itu akan diawali dengan membangun jalinan kerja G to G; antar pemeritah desa. Profil aparat pemerintah Desa Kandangan yang tidak optimal dalam kerja-kerja pelayanan publik dan pembangunan desa mulai beringsut ketika provokasi lanjutan Singgih Kartono dan Taufik gencar dilakukan usai lokakarya. Satu kunjungan belajar satu hari akan dilakukan ke Desa Terong pada hari Senin, 14 Maret 2011. Tidak tanggung-tanggung, hampir seluruh aparat desa dan wakil pemuda setempat akan bergabung dengan rombongan tiga mobil menuju COMBINE di Sewon pada Senin (14/03) pagi untuk selanjutnya bersama-sama menuju Terong. Peserta lokakarya yang berdomisili di Yogyakarta dan sekitarnya dihubungi pula agar dapat mengikuti proses lanjut dari sesi diskusi sebelumnya. Dua hal utama yang akan coba dilihat dan dipelajari bersama, khususnya oleh rombongan dari Desa Kandangan, adalah manajemen pelayanan publik yang baik di kantor pemerintah Desa Terong dan strategi perencanaan serta pembangunan wilayah perdesaan berbasis sumber daya/aset setempat. Pemerintah Desa Terong telah siap untuk menyambut tamu dan membuka ruang belajar di desa berbukit-bukit tersebut.

Sejurus dengan contoh baik dari Desa Terong, Desa Kandangan pun sangat berharap ada perubahan dalam sistem manajemen kerja dan pelayanan publik di desa mereka. Sistem Informasi Desa (SID) yang telah terbangun di Terong akan menjadi satu titik perhatian utama, melihat kemungkinan penerapan model serupa di Kandangan. Satu gagasan pembangunan Pusat Informasi Desa sebenarya telah digagas di Kandangan sejak tahun 1997 oleh Singgih Kartono. Namun, oleh karena tidak ada dukungan bersama warga dan belum adanya contoh baik sebagai referensi pembelajaran maka konsep itu masih berada di ranah angan-angan. Momentum ini akan menjadi satu terobosan penting bagi Kandangan; langkah percepatan untuk mengubah sistem informasi desa menjadi lebih sangkil dan mangkus, seperti yang dilakukan oleh Desa Terong di awal tahun 2010 lalu.

(Elanto Wijoyono)