Catatan Gagasan Jelang Lokakarya Desa Kota Lestari

Teringat akan kisah Aesop tentang seekor tikus kota yang mengunjungi kerabatnya di desa. Untuk makan siang, dia disuguhi tangkai gandum, akar-akaran, biji-bijian, dan sedikit air untuk diminum. Tikus kota hanya makan sedikit, untuk menghormati tuan rumah. Usai makan, sambil tiduran di sarang di pagar tanaman, tikus kota bercerita tentang kehidupannya di kota yang berkelimpahan makanan tanpa harus mencari sendiri. Tikus desa termenung mendengarnya. Ia pun mengiyakan ajakan tikus kota keesokan harinya untuk berkunjung ke kota.

Tikus desa terpana dengan kota yang begitu gemerlap. Lewat sebuah lubang kecil di tembok rumah berdinding bata tebal, tikus desa diajak masuk ke kediaman tikus kota. Diajaknya oleh tikus kota si tikus desa ke ruang makan. Berlimpah benar makanan di atas meja, sisa-sisa dari pesta yang sangat mewah. Ada daging, kue kering, buah-buahan, da keju yang teramat lezat menggoda. Baru saja tikus desa hendak menggigit remah roti berkeju, ada suara mengeong keras dengan geraman yang muncul dari sudut pintu. Larilah kedua tikus itu, bersembunyi hingga merasa aman. Namun, ketika mereka berdua hendak kembali ke meja, pelayan rumah datang membereskan sisa-sisa makan di atas meja. Anjing penjaga rumah tampak menunggui di depan pintu ruang makan.

Sejurus kemudian, tikus desa mengambil tas dan payungnya, keluar dari sarang tikus kota dan berkata, “Kamu mungkin bisa makan enak dan lezat disini sementara saya tidak, tapi saya lebih suka makanan sederhana dan hidup aman tanpa ketakutan di desa.”

Dongeng yang sudah dikisahkan sejak 2600 tahun yang lalu di Yunani itu mencoba menyampaikan secuil moral bahwa “kemiskinan” dengan keamanan tetap lebih baik daripada kaya raya atau keberlimpahan di tengah-tengah ketakutan dan ketidakpastian.

Sebuah langkah analisis akan coba dibangun dalam sebuah kerangka untuk merekonstruksi hubungan antara desa dan kota yang lestari. Hal itu diandaikan jika memang kedua wilayah tempat tinggal tikus-tikus yang berbeda latar belakang itu selama ini hanya terhubung dalam sebuah siklus produksi dan konsumsi. Namun, desa yang kaya dengan sumber daya alam ternyata mengalami proses pemiskinan. Padahal, orang kota, yang butuh makanan, akan tergantung pada orang desa yang menyediakan bahan makanan. Kepastian ketersediaan sumber daya itu ada di desa, yang justru dimiskinkan akibat ketidakpastian kehidupan kota yang dikuasai modal. Tentu saja, kondisi yang terbaik adalah ketika ada keberlimpahan dan keamanan. Alih-alih meneruskan eksploitasi sumber daya, ada satu langkah yang coba ditawarkan, yakni mencoba tumbuh bersama sumber daya.

Gagasan rekonstruksi itu akan coba didiskusikan dalam sebuah lokakarya terbatas untuk 15 peserta terseleksi dari beragam latar belakang yang terkait dengan kehidupan pembangunan desa dan kota. Jumat – Minggu, 3 – 5 Maret 2011 akan menjadi hari untuk pelaksanaan gelaran lokakarya membangun kembali (rekonstruksi) hubungan desa dan kota yang lestari.

Persiapan sedang dilakukan dengan menuliskan beberapa catatan pengantar lokakarya yang akan disusun oleh Marco Kusumawijaya dan Elanto Wijoyono. Tim Lumbung Komunitas akan berperan mengelola kegiatan ini sebagai salah satu langkah untuk memperdalam tujuan gagasan kemandirian komunitas yang hidup bersama sumber daya yang dimilikinya. Tahap-tahap persiapan kegiatan akan dikabarkan kemudian.

(Elanto Wijoyono)