Kerangka Pikir Lumbung Komunitas

Tahun 2013 adalah tahun keempat dalam tahap pembangunan konsep Lumbung Komunitas yang diwujudkan melalui penerapan Sistem Informasi Desa (SID). Inisiatif ini telah dibangun oleh COMBINE Resource Institution (CRI) sejak tahun 2009. Visi membangun jejaring komunitas yang dapat terhubung dan melengkapi satu sama lain, sehingga mempermudah proses pertukaran sumber daya berlandaskan prinsip saling tergantung dan mutualistik, adalah landasan pikirnya. Tujuan akhirnya adalah terbangunnya kapasitas kemandirian komunitas, berdaya dengan potensi aset yang dimiliki dengan dukungan jaringan komunitas yang terhubung dengannya.

Perjalanan Sejarah Pengembangan SID

Hal tersebut tidak muncul seketika, melainkan merupakan hasil pendalaman proses sejak CRI bergiat dari awal dekade 2000-an. Pada medio dekade itu, muncul inisiatif membangun konsep Lumbung Daya bersama Paguyuban Serikat Petani Qaryah Thayyibah di Jawa Tengah; diwujudkan sebagai sistem informasi sumber daya desa yang dikelola kelompok tani. Gagasan itu telah diujicoba dan kemudian diperdalam melalui diskusi lanjutan bersama beberapa komunitas desa, seperti komunitas Desa Balerante (Klaten, Jawa Tengah) dan komunitas Desa Terong (Bantul, D.I. Yogyakarta). Dalam diskusi lanjutan yang berlangsung sejak tahun 2008 itulah embrio Sistem Informasi Desa (SID) muncul dan mulai diwujudkan purwarupanya di tahun 2009.

SID yang dirumuskan rancangan teknisnya pada tahun 2009 diarahkan sebagai alat yang dapat digunakan untuk mendukung proses olah data dan informasi sumber daya komunitas di tingkat desa. Sebuah sistem informasi berbasis komputer adalah penerjemahan fisiknya. Sistem ini dirancang dikelola oleh komunitas di tingkat desa dengan koordinasi pemerintah desa yang berperan sebagai administrator pengelolaan data dan informasi desa. CRI kemudian menegaskan gagasan ini dalam sebuah platform Lumbung Komunitas yang secara resmi mulai digiatkan sejak tahun 2010. Sejak periode tersebut, SID pun mulai dibangun sebagai sebuah sistem dinamis yang siap untuk dimanfaatkan dan dikembangkan secara terbuka. Hingga akhir tahun 2012, tercatat lebih dari 90 desa telah mengikuti proses inisiasi penerapan dan pemanfaatan SID pada beragam tingkat pelaksanaan.

Agenda Pengembangan dan Pemanfaatan di Tahun 2013

Pada sisi pengembangan teknis, aplikasi SID yang menjadi wujud sarana menuju terbangunnya platform Lumbung Komunitas, telah mencapai versi SID 2.1. Pada Triwulan I tahun 2013 ini, aplikasi SID versi 3.0 dijadwalkan akan dirilis ke publik. Dalam naungan lisensi pengembangan perangkat lunak terbuka (Free and Open Source Software), SID versi 3.0 dirancang memberikan fungsi olah data dan informasi desa yang lebih lengkap. Versi termutakhir ini akan memuat fungsi olah data kependudukan dan aset/sumber daya, lengkap dengan fungsi olah dokumen, pemetaan, dan analisis data. Aplikasi SID versi 3.0 juga akan memiliki kesesuaian fungsi untuk penggunaan SMS Gateway yang lebih optimal. Fungsi SMS Gateway ini terhubung dengan basis data yang tersimpan di dalam aplikasi SID, sehingga bisa dimanfaatkan untuk beragam tujuan.

Berbicara tentang pemanfaatan, hal tersebut akan menjadi prioritas pengelolaan program kegiatan di periode tahun 2013 ini. Selama tiga tahun masa ujicoba dan penerapan di sejumlah wilayah di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah, beragam pengalaman pemanfaatan SID sudah terekam. Basis data dan fungsi olah dokumen yang diperankan oleh aplikasi SID versi terdahulu telah mampu membantu komunitas desa untuk melakukan penyediaan data, pembuatan dokumen, hingga pelayanan publik. Pemanfaatan untuk ranah yang lebih luas, seperti pada proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa menjadi target utama di tahun keempat ini. Selain itu, pemanfaatan jejaring SID di tingkat antar desa, baik antar desa dalam satu wilayah, atau antar desa dalam satu kawasan, juga akan diperkuat. Seluruh proses ini akan tetap dikelola secara terbuka oleh CRI bersama sejumlah lembaga mitra yang bergerak di sejumlah wilayah, seperti Perkumpulan IDEA, UNDP MRR, ACESS, dan beberapa perwakilan pemerintahan daerah di tingkat kabupaten, seperti di Gunungkidul dan Temanggung. Keterlibatan pihak-pihak baru yang berminat untuk terjun dalam proses belajar ini terbuka lebar. Termasuk pula potensi inisiasi penerapan SID di wilayah baru, baik di Jawa maupun di luar Jawa, seperti yang telah diujicobakanoleh ACCESS.

Mengingat begitu besarnya target dan utamanya prioritas pada ranah pemanfaatan di periode 2013 ini, bulan Januari 2013 ini menjadi penting. Bulan pertama ini akan diisi dengan tahap persiapan dan penguatan bagi desa-desa penerap SID untuk menuju tahap pemanfaatan lebih lanjut. Pada tahap ini, desa-desa akan didorong untuk membangun agenda pemanfaatan, baik di lingkup internal desa masing-masing maupun di lingkup antar desa di tingkat wilayah atau kawasan. Ada tujuh wilayah kabupaten yang telah dituju sebagai target kegiatan utama selama tahun 2013 ini. Tujuh wilayah itu meliputi Kabupaten Sleman, Bantul, dan Gunungkidul di Provinsi D.I. Yogyakarta, serta Kabupaten Klaten, Boyolali, Magelang, dan Temanggung di Provinsi Jawa Tengah. Ketujuh wilayah kabupaten itu akan dikelola bersama lembaga-lembaga mitra CRI. Program kegiatan yang berlangsung di luar tujuh wilayah kabupaten itu akan didudukkan pada prioritas kedua, dengan mendorong keakfifan lembaga-lembaga mitra CRI untuk bisa menjadi fasilitator mandiri di wilayah tersebut.

(Elanto Wijoyono)