BPBD Kabupaten Magelang bekerjasama dengan Pusat Studi Manajemen Bencana-Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta (PSMB-UPN YK) di Tempat Evakuasi Akhir (TEA) Tanjung, Muntilan menggelar pelatihan kebencanaan selama lima hari antara dua desa bersaudara (sister village), yaitu Desa Tamanagung, Muntilan dan Desa Ngargomulyo, Dukun. Hari kelima pelatihan, Sabtu (29/06), digelar simulasi dalam balutan tema gladi posko yang disentralkan di Desa Tamanagung, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Acara yang di hadiri oleh Pemerintah Kabupaten Magelang, Muspika Kecamatan Muntilan dan Kecamatan dukun, serta beberapa tamu undangan dari dinas dan instansi seperti PMI, SAR, dan lain-lain itu berjalan dengan penuh antusias. Secara keseluruhan, peserta gladi posko berjumlah sekitar 250 orang; terdiri dari para relawan yang berada di Kabupaten Magelang dan penduduk Desa Ngargomulyo.

Skenario simulasi yang harus mereka laksanakan adalah ketika ada informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) atau pihak berwenang mengenai peningkatan status Gunungapi Merapi dari level normal menuju level siaga dan waspada. Masyarakat dan para relawan diharapkan segera tanggap untuk menjalankan rencana kontijensinya. Gladi Posko dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan pengumuman terjadinya peningkatan status Merapi dari normal menuju siaga pada saat itu oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang. Titik satu yang berada di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, yaitu Desa Ngargomulyo segera menanggapi informasi tersebut. Mereka segera mengerahkan segenap kapasitas yang ada, diantaranya dengan menyiapkan armada pengangkut pengungsi, meningkatkan intensitas pemantauan informasi, dan mengumpulkan masyarakatnya di titik-titik kumpul yang telah disepakati. Begitu pula pada pihak Desa Tamanagung yang akan dijadikan sebagai tujuan pengungsian, segera mempersiapkan relawan, dapur umum, dan pengamanan jalur evakuasi.

Peran Sistem Informasi Desa (SID) yang signifikan adalah ketika para pengungsi dan relawan dari Desa Ngargomulyo memasuki TEA Tamanagung. Hal pertama yang dilakukan adalah mendata semua yang berada di TEA tersebut; meliputi jumlah para pengungsi, relawan, dan kebutuhannya. Data itu dipublikasiakn online dan langsung terakses ke dinas-dinas terkait, seperti BPBD Kabupaten Magelang. Melalui SID ini kedua desa sebelum kejadian telah menjalin tukar informasi untuk menunjang keakuratan data. Ternyata, melalui simulasi ini juga ditemukan beberapa titik kelemahan, seperti ketika penginformasian itu dilakukan melalui pesawat Handy Talky (HT) oleh para relawan maka hal tersebut sedikit menemui gangguan frekuensi dari masyarakat pengguna HT lainnya. Tentu saja hal ini menjadi catatan yang cukup penting bagi BPBD untuk lebih bisa meningkatkan keamanan dan kenyamanan jalur informasi.

Sebagai bahan evaluasi dan rencana tindal lanjut (RTL) gladi posko hari ini maka para peserta pelatihan diminta untuk menganalisis dan memetakan setiap keganjilan dan kekurangan pada acara ini. Peserta pelatihan juga mendapatkan pengarahan yang lebih dari pihak pemerintah kabupaten yang sangat optimis dengan telah diadakannya acara simulasi pagi itu. Namun, hal yang lebih menggembirakan lagi adalah semakin meningkatnya pemahaman masyarakat tentang bencana yang terjadi. Masyarakat semakin sadar bahwa jiwa mereka memang harus didahulukan dalam penyelamatannya daripada harta benda. Harta benda tentu saja bisa dicari dengan cara bekerja kembali setelah semua aman.Tentunya masyarakat juga lebih menyadari tabiat alam dan dibutuhkan sikap aktif dalam menanggapinya, bukannya malah pasif.

Selamat untuk BPBD Kabupaten Magelang, PMI, SAR, jajaran Muspika, dan teman-teman relawan semua yang telah mensukseskan acara ini, termasuk CRI dengan Sistem Informasi Desa-nya dan PSMB-UPN.

Tegelinang (Desa Tamanagung, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah)