Setelah hampir dua tahun bersiap, enam desa di Kabupaten Gunungkidul akhirnya mulai melakukan analisis kemiskinan dengan dukungan aplikasi Sistem Informasi Desa (SID). Dengan didampingi oleh tim program Perkumpulan IDEA Yogyakarta sejak tahun 2011, proses penyusunan perangkat Analisis Kemiskinan Partisipatif (AKP) berhasil disusun dan diujicoba. Ada 10 aspek yang dinilai dengan indikator lokal yang telah disepakati bersama 6 desa dan para pihak di tingkat kecamatan dan kabupaten. Perangkat kerja AKP ini kemudian dimasukkan sebagai fungsi pengembangan dalam aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) yang diterapkan di 6 desa tersebut. Pengembangan yang dilakukan oleh tim COMBINE Resource Institution (CRI) berhasil menyedikan sebuah fungsi sensus aset/sumber daya di tingkat individu dan keluarga yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk melakukan AKP.

Pada Minggu I Juli 2013 lalu, tim CRI dan IDEA membantu proses upgrade aplikasi SID di enam desa tersebut. Kegiatan ini dilakukan selama tiga hari, mulai dari tanggal 3 – 5 Juli 2013. Pada hari pertama, 3 Juli 2013, tim berkunjung ke Desa Girikarto di Kecamatan Panggang dan ke Desa Nglegi di Kecamatan Patuk. Hari kedua, 4 Juli 2013, tim berkunjung ke Desa Beji dan Desa Nglanggeran di Kecamatan Patuk. Hari ketiga kunjungan dilakukan ke Desa Girisuko dan Desa Girimulyo di Kecamatan Panggang. Dalam kunjungan itu, tim teknologi informasi CRI melakukan proses upgrade aplikasi SID yang terpasang di komputer kantor desa. Aplikasi sebelumnya, yakni SID 2.2 yang juga sudah memiliki fungsi sensus sumber daya, diupgrade ke aplikasi SID versi 3.0. Selain proses upgrade, dalam kegiatan lapangan ini, tim CRI juga memastikan bahwa staf pemerintah desa di 6 desa itu telah paham dan bisa mengoperasikan fungsi sensus sumber daya dalam SID 3.0. Sebelumnya, dalam satu sesi pelatihan selama dua hari di Yogyakarta (20-21 Juni 2013), aplikasi SID 3.0 ini telah diperkenalkan dan dilatihkan kepada staf pemerintah desa peserta program.

Keenam desa peserta program ini kemudian akan melakukan proses lanjutan entry data hasil sensus untuk AKP ke dalam aplikasi SID. Proses entry data AKP ini akan menyesuaikan dari ketersediaan basis data kependudukan dalam SID masing-masing desa. Data sensus sumber daya untuk AKP baru bisa dimasukkan ke dalam aplikasi SID jika basis data kependudukan sudah tersedia. Hal ini disebabkan data tersebut harus dimasukkan ke dalam data setiap keluarga. Jika data kependudukan belum ada maka data hasil sensus untuk AKP ini belum bisa dimasukkan. Secara umum, dari enam desa tersebut, sudah memiliki basis data kependudukan di dalam aplikasi SID. Memang masih ada sejumlah data kependudukan yang belum masuk ke dalam sistem, tetapi hal itu bisa dilakukan dengan segera oleh tim di desa masing-masing.

Proses penerapan AKP di Kabupaten Gunungkidul adalah program percontohan yang dikelola bersama oleh tim IDEA dan CRI. Program ini terhubung dengan agenda penanggulangan kemiskinan, baik di tingkat daerah maupun tingkat nasional. Pada tingkat daerah, program ini terhubung dengan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Gunungkidul. Pada tingkat nasional, program ini terhubung dengan program Strategic Alliance for Poverty Alleviation (SAPA) yang dikoordinasikan oleh Komite Kemitraan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan dan Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia. Penerapan SID untuk mendukung AKP ini akan dikembangkan pemanfaatannya, baik pada sistem di tingkat desa maupun di tingkat supra desa. Dalam waktu dua bulan ke depan, tim CRI akan merilis sistem di tingakt supra desa yang akan mampu menampilkan hasil olah data AKP yang bersumber dari SID 6 desa tersebut. Model ini akan menunjukkan kerja sistem informasi dua arah antara pemerintahan di tingkat desa dan supra desa dalam urusan kerjasama untuk program penanggulangan kemiskinan.

(Elanto Wijoyono)