Sistem Informasi Desa (SID) dibangun berdasarkan prinsip mendukung kerja masyarakat/komunitas untuk berdaya mengelola aset/sumber daya yang ada di lingkungannya secara mandiri. Konsep ini kemudian coba diwujudkan untuk dapat diterapkan dalam konteks nyata. Media atau perangkat kerja yang dibangun untuk mewujudkan konsep itu adalah aplikasi SID. Desa selama ini dijadikan sebagai batas entitas sosial yang diposisikan sebagai pelaku/penerap SID. Lingkup desa secara administratif menjadi batas penyelenggaraan SID yang telah coba diterapkan sejak tahun 2009 lalu. Namun, di luar batas formal tersebut, sebenarnya SID tetap fleksibel untuk diterapkan sebagai sistem kerja yang lintas ruang. SID sebagai sebuah alat tetap akan mampu menjalankan perannya membantu masyarakat/komunitas untuk mengelola data/informasi aset dan sumber dayanya, kapan pun dan di mana pun.

Oleh karena itu, COMBINE Resource Institution (CRI) pada tahun 2013 ini berupaya untuk menerapkan SID dalam konteks perkotaan. Hal ini dilakukan dengan menyadari bahwa entitas komunitas itu tak hanya ada di perdesaan, melainkan juga di perkotaan. Disadari pasti akan ada beberapa hal yang akan membedakan karakter kehidupan masyarakat/komunitas di perdesaan dan perkotaan dalam penerapan SID. Hal itu antara lain dipengaruhi oleh sistem pemerintahan di desa dan kota yang berbeda. Namun, secara prinsip, konsep komunitas sebagai pemilik aset/sumber daya lingkungan dan sebagai penerap SID tetap akan memiliki persamaan.

Upaya untuk menerapkan SID di lingkungan perkotaan dilakukan di dua wilayah kelurahan di Kota Yogyakarta, yakni Kelurahan Gowongan dan Kelurahan Jetisharjo. Kedua wilayah ini disatukan dalam konteks kawasan bantaran Kali Code. SID akan diarahkan untuk menjadi sistem informasi yang akan membantu komunitas di tingkat RT, RW, dan kampung dalam mengelola data-informasi aset/sumber daya yang dimilikinya. Akhir tahun 2012 lalu, komunitas di Kampung Jogoyudan, Gowongan telah mencoba mengawali inisiasi SID di kampung mereka dengan label Sistem Informasi Kampung (SIK). Pada bulan Juli 2013 ini, satu wilayah lagi, di RW 07 Jetisharjo, juga siap untuk mengikuti jejak Kampung Jogoyudan.

Pertemuan persiapan pembangunan SIK untuk wilayah RW 07 Jetisharjo, Yogyakarta dilakukan pada hari Minggu, 7 Juli 2013 malam di Masjid As-Salam, Jetisharjo. Pertemuan kecil ini dihadiri oleh perwakilan RW dan RT setempat. Ketua RW 07 Sugiyono menyambut baik rencana ini karena ternyata memang sesuai dengan harapan tentang keberadaan sistem informasi yang mampu membantu kerja olah data yang selama ini dilakukan oleh pengurus RT dan RW. Hal ini diiyakan oleh kelompok ibu-ibu yang turut hadir dalam pertemuan malam itu. Sebagai kader program PKK di tingkat RT dan RW, kelompok ibu sering mengerjakan tugas pendataan yang diminta oleh dinas/instansi pemerintah kota. Namun, pendataan selama ini tidak efektif karena setiap instansi selalu minta data berulang kali. Padahal, data yang sama telah dikirimkan ke pihak instansi pemerintah kota. SIK ini diharapkan dapat membantu ketersediaan data oleh komunitas di tingkat RT/RW/Kampung. Data ini bisa dimanfaatkan secara optimal, baik untuk kepentingan masyarakat maupun untuk melayani kepentingan pihak lain, seperti pemerintah kota.

Dalam bulan Juli 2013 ini, instalasi dan pelatihan penerapan SIK untuk konteks kampung kota di RW 07 Jetisharjo akan dilaksanakan. Selain penerapan, juga akan dilakukan pengembangan aplikasi SID agar bisa sesuai dengan konteks perkampungan di wilayah kota. Tim kerja di setiap RT dan RW ini nanti juga akan terlibat aktif dalam proses pengembangan sistem tersebut. Pegiat Kali Code Fest Hernindya Wisnu Aji akan mengkoordinasikan gerakan ini dengan perangkat RT dan RW setempat. Agenda di Jetisharjo ini akan meliputi 1 wilayah RW, yakni RW 07, yang memiliki 5 RT. Setelah proses di RW 07 ini dapat berjalan dengan baik, proses replikasi di wilayah RW lain akan dilakukan. Bahkan, tim RW 07 menyatakan siap untuk bisa menjadi pelatih SIK ke wilayah RT dan RW lain.

(Elanto Wijoyono)