GREGET DESA – 14 Desember 2013

Fasilitator: Yohannes Supramono
Tempat: Aula Kantor Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul
Pukul: 16.00 – 17.00

Salah satu peran utama pemerintah desa adalah memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Pelayanan publik ini tidak terbatas pada urusan administrasi dan surat-menyurat, tetapi juga termasuk pada layanan data dan informasi publik. Hal ini menjadi keniscayaan mengingat pemerintah desa dan lembaga masyarakat di tingkat desa merupakan badan publik yang harus siap mengelola data dan informasi publik. SID dengan muatan data dan informasi yang dimilikinya memiliki potensi besar untuk mendukung desa menjadi garda terdepan dalam pelayanan publik yang optimal.

Daftar Hadir Peserta Workshop:

No.

Nama

L/P

Lembaga

Alamat

1.

M Taufik Batubara

L

TKPKD

Sei Rampas

2.

Zulkarnain

L

TKPKD

Banda Aceh

3.

Endang H

P

Talun, Kemetang

4.

Edi Ariadi

L

Kupas

Ulin 103, Makassar

5.

I Gede Eka W

L

MBM

Bali

6.

Deden Sukendar

L

TKPKD

Sukabumi

7.

Restu Aprianta Tarigan

L

BITRA

Medan

8.

Alfath

L

DKPEK

Semarang

9.

Widodo

L

Pemdes

Magelang

10.

Kusmawati H

P

WDW

Banda Aceh

11.

Yayuk

P

PPSW

Sukabumi

12.

Puji W/ Sukijan

JMKP

Kulon Progo

13.

Ambar Riyadi

L

IDEA

Jl Kaliurang KM 5 Sleman

14.

Isnawati

P

IDEA

Jl Kaliurang KM 5 Sleman

15.

Meiastuti DH

P

Bappeda Surakarta

16.

Helmi

L

SPP

Jl Laswi Tasikmalaya

17.

Riki Hermawan

L

SPP`

Jl Jend Soedirman Ciamis

18.

Deni

L

SPP

Garut

19.

Lalu Wiranata

L

Bappeda

Kab Lombok Tengah

20.

Moh Adriyanto A.J

L

TKPKD

Kota Kupang

21.

Wagiyo

L

Kades

Krambilsawit

22.

Tasinal

P

Kebumen

23.

Akhmad Zein S

L

TKPKD

Kota Surakarta

24.

Enang Ruhiyat

L

TKPKD

Kab Subang

25.

Sahrul Akbar

L

TKPKD

Kab Garut

26.

Ahmad Taufik

L

Seknas Fitra

Jakarta

27.

U.R Landuawang

L

Bengkel Appek

Kupang, NTT

28.

Arifin

L

Kades

Nglegi, Pathuk

29.

Wahyudin

L

Pemdes

Kebuman

30.

Partini

P

TKP2KDES

Kebumen

31.

Siti Masiatun

P

Desa

Kebumen

32.

Istiatun

P

KIP DIY

Jl Gayam 10 YK

33.

Sudaryanto

L

Desa

Girisekar

34.

Bowo S

L

Desa

Temanggung

35.

Heru M

L

Desa

Temanggung

36.

Suwardiyanto

L

Balong, Girisubo

37.

Dumadiyanto

L

Balong, Girisubo

38.

Lugiman

L

Kemesung, Semin

39.

Sarjiyo

L

Girimulyo, Panggang

40.

Riyanto

L

Girimulyo, Panggang

41.

Sudaryanti

P

Girimulyo, Panggang

42.

Danang R

L

Temanggung

43.

Sait

L

Pemdes

Bulu, Temanggung

44.

Ismohadi

L

Desa

Girisuko, Panggang

45.

Adiyad Riyadh

L

YSKK

Singopuran, Solo

46.

Erni Herawati

P

FPPD

Jl Karangnongko 175

47.

Nunung Z

L

Desa

Tamanagung Muntilan, Magelang

48.

Sulasa

L

Desa

Hargosari

49.

Puji Qomariyah

P

FPPD

50.

M. Joko P

L

Pemdes

Tamanagung Muntilan, Magelang

51.

Hajar Musyarofah

P

Pemdes

Tamanagung Muntilan, Magelang

52.

Jamhari

L

Desa

Ngawen, Playen

53.

Suparjo

L

Desa

Kebumen

54.

Mardiadi

L

Desa

Kebumen

55.

Mattukhin

L

Desa

Kebumen

56.

Chia

P

ACE

Jakarta

57.

Umi Arifah

P

Formasi

Kebumen

58.

Supriyatun

P

Desa

Semanu, GK

59.

Mulyadi

L

Aksara

Jogja

60.

Sukamso

L

Desa

Kebumen

61.

Sri Widagdo

L

Desa

Klaten

62.

Mamet Sunardi

L

Pemdes

Kebumen

63.

Suyitno

L

Desa

Kebumen

64.

Muhtar S. Anam

L

Formasi

Kebumen

65.

Subagiyono

L

Desa

Temanggung

66.

Ikhsanudin

L

Desa

Kebumen

67.

Purwanto

L

Desa

Kebumen

68.

Agus Turyono

L

Desa

Kebumen

69.

Sudimal

L

Desa

Klaten

70.

Darwono

L

Desa

Klaten

71.

Sri Yanto

L

Desa

Klaten

72.

Herman

L

Desa

Boyolali

73.

Sularno

L

JMKGK

Wonosari, GK

74.

Ardian

L

YKKS

Solo

75.

Mujianto

L

Desa

Boyolali

76.

Widodo

L

Desa

Balerante

77.

Suman

L

Rakom MMC

Boyolali

78.

Jaim

L

Desa

Balerante, Klaten

79.

Yulianto

L

Desa

Pana

80.

Yauri

L

SAPA

Jakarta

81.

Manang J

L

TSD

Kemalang

82.

Z. Tarodin

L

Desa

Kandangan, Temanggung

83.

Ian Riyanti

P

YUK

Jogja

84.

Rusdiyanto

L

IDEA

Jl Kaliurang KM 5

85.

Sugianto

L

Desa

Temanggung

86.

W. Zakiyah

P

IDEA

Jl Kaliurang KM 5

87.

Suci

P

IDEA

Jl Kaliurang KM 5

88.

Widodo

L

MMC

Boyolali

89.

Puji Basuki

L

Desa

Sambirejo

90.

Suwardi

L

MMC FM

Boyolali

91.

Turyanto

L

Desa

Rejangkolan, Kebumen

92.

Paryanto

L

Desa

Kemalang, Klaten

93.

Yanto BC

L

BKC

Bantul

94.

Sodikin

L

PNPM

Sleman

95.

Zakaria

L

SAPA

Solo

96.

Tri Widodo

L

Desa

Klaten

97.

Nino Histiraludin

L

Jerami

Solo

98.

Taufik

L

Desa

Kandangan, Temanggung

99.

Shorikhin

L

Desa

Kandangan, Temanggung

100.

Triananda

P

IDEA

Jogja

101.

Parjito

L

Desa

Girimulyo

102.

Fajarini

P

STPMD

Jl Timoho 317

103.

Hardjono

L

STPMD

Jl Timoho 317

104.

Rinaldi

L

JRKI

Solo

105.

Anis Nuria

P

IDEA

Jl Kaliurang KM 8

106.

Muhammad Sodiq

L

KFM

Dukun, Magelang

107.

Agus M

L

Pemdes

Dukun, Magelang

108.

Habiburrahman

L

KFM

Dukun, Magelang

109.

Yazid Aiman

L

Pemdes

Dukun, Magelang

110.

Tiem F. Usman

P

IDEA

Jl Kaliurang

111.

Irman A

L

CRI

Bantul

112.

Marsudi

L

BPMP GK

Gunungkidul

113.

Pakdjo

L

Malioboro

114.

Insan H

L

Bappeda Kulon Progo

Panyatan, Kulon Progo

115.

Wiwit E

P

IDEA

Jl Kaliurang KM 5

116.

Bayu SA

L

JRK Jateng

Magelang

117.

Sinam

L

JRKI

Solo

118.

Imam Setyadi

L

IDEA

Jl Kaliurang KM 5

119.

Tenti NK

P

IDEA

Jl Kaliurang KM 5

120.

Agus Harmanto

L

Desa

Beji

121.

Munanto

L

Desa

Boyolali

122.

Bubu Rafael

L

Jl Kaliurang KM 5

123.

Erie

L

Inisiatif

Bandung

124.

Andri

L

TKPKD

Kota Tasikmalaya

125.

Rusmiyatun

P

JMMP

Pleret, Kulon Progo

126.

Widodo

L

Desa

Bohol, Gunungkidul

127.

Dini Pramita

P

IDEA

Elanto Wijoyono :

Ya, terima kasih. Kira-kira waktunya tidak akan lama, 13.5 menit. Sebelumnya, mohon untuk Bapak/Ibu peserta workshop/seminar terutama yang dari desa-desa, soalnya kalau yang dari luar kota sudah hadir disini semua. Mungkin Bapak/Ibu yang ada di luar yang perwakilan desa-desa, bisa sebentar kembali ke dalam. Jadi sebagai informasi sebelum masuk ke paparan dan sedikit diskusi, malam ini kalau masih ada yang menginap disini, kalau yang luar kota pasti masih menginap; tetapi kalau teman-teman dari desa-desa masih bisa menginap sampai besok karena hari minggu itu masih ada Kirab Budaya, bagian dari Nglanggeran Culture Festival. Jadi sebenarnya malam ini kami meminta teman-teman dari tim Karang Taruna Desa Nglanggeran itu untuk memberikan presentasi dan berbagi pengalaman tentang manajemen desa wisata. Jadi mungkin Bapak/Ibu yang ingin tahu lebih lanjut Nglanggeran itu kok bisa menarik itu seperti apa caranya, yang dikelola oleh tim yang muda-muda, sebenarnya nanti malam akan kita adakan diskusi itu sekaligus peluncuran dan nonton bareng video tentang Analisis Kemiskinan Partisipatif.

OK, Bapak/Ibu monggo sebentar masuk dulu. Mungkin yang dari desa-desa terutama agar kita bisa mencoba mendapatkan catatan dari apa yang sudah kita lakukan selama 2 hari ini. Jadi kemarin siang setelah pembukaan, kita sudah awali sesi workshop pararel kelas-kelas itu dengan materi yang dipaparkan oleh Mas Nashir dan Mas Anton Birowo, kalau masih ingat. Yaitu tentang bagaimana menerapkan SID di desa kita masing-masing. Itu harus diawali dengan peta literasi media warga desa kita masing-masing. Kemarin kita awali dengan workshop pleno seperti itu dan kemudian baru setelah itu kita masuk ke per isu. Ada yang belajar tentang pertanian, lingkungan, kehutanan, bencana, AKP, dan sebagainya.

Nah, setelah kita punya gambaran setiap isu dengan SID kita akan ngapain? Itu yang sebenarnya nanti muaranya ketika kita kembali ke desa masing-masing, terutama ini untuk teman-teman undangan yang dari desa, mungkin di luar pun masih bisa mendengarkan.

Apa yang kemudian bisa kita lakukan setelah event dua hari ini? Saya dan teman-teman panitia acara ini berharap, setelah pulang dari event ini Bapak/Ibu teman-teman dari desa-desa itu akan punya gagasan dan rencana akan melakukan sesuatu yang baru dengan SID, tidak hanya berhenti pada olah data dasar tetapi ada hal baru yang sudah direncanakan. Yang nanti ujungnya tetap pada aspek bahwa kita sebagai penyelenggara desa, misalnya Bapak/Ibu; itu kemudian bisa memberikan pelayanan yang optimal terutama pada data dan informasi publik di tingkat desa.

Nah, untuk merangkum itu saya minta bantuan Pak Johanes Supramono untuk sedikit membantu merangkum, bagaimana sih kemudian dengan pengalaman beliau pernah jadi lurah, camat, dan staf yang banyaklah. Pernah menjadi staf ABCD dari tingkat RT sampai ke kota, yang kira-kira bisa memberikan gambaran ke kita semua. Saya sendiri belum pernah jadi RT, belum pernah jadi kades, belum pernah jadi staf apapun; sehingga bagaimana kemudian dengan SID itu kita bisa mengoptimalkan hal-hal yang bisa kita lakukan langsung di desa kita masing-masing bercermin dari apa yang kita pelajari kemarin. Mungkin Pak Djo bisa langsung, monggo!

Yohanes Supramono

Selamat sore Bapak-bapak, Ibu-ibu, Mas-mas, Mbak-mbak seluruhnya. Mohon maaf tadi sudah dikenalkan oleh Mas Joyo, tapi saya lebih sering dipanggil Pak Djo. Saya disini sebenarnya bukan merangkum, bukan menyimpulkan tapi lebih kepada bentuk-bentuk apa yang sudah saya alami. Karena kebetulan pertama kali saya dulu bekerja di Wamena; kemudian di Nabire; kemudian di Tapak Tuan, Aceh; kemudian di Gayo; di Bulukumba; Sengkang; Wajo; kemudian di Pemkot; pernah mencicipi jadi Lurah di Malioboro; jadi Camat disitu dan lain sebagainya.

Sesuatu yang sangat memprihatinkan kenapa SID ini muncul adalah keluh kesah saya kepada Mas Joyo dan teman-teman. Bagaimana sulitnya aparat desa, perangkat desa, dan masyarakat; menentukan pekerjaan kita untuk tahun ke depan alias perencanaan kegiatan, karena kita tidak punya bahan atau tidak punya sangu. Itu hal yang paling sederhana. Sehingga rata-rata pemimpin-pemimpin di wilayah, baik itu di kampung, di nagari, lurah, kepala desa, bahkan camat dan lain sebagainya; selalu mengambil kesimpulan, selalu memutuskan setiap pekerjaannya berdasarkan intuisi atau feeling, bukan berdasarkan akurasi datanya.

Dengan demikian kenapa dibangun SID yang kemarin sudah ada workshop, sudah ada pelatihan, dan lain sebagainya; itu untuk memudahkan para pengabdi, pelayan masyarakat, dan juga masyarakat mengambil keputusan untuk mengembangkan desa, kelurahan, wilayah, ataupun pekerjaan mereka. Contoh yang paling gampang adalah berkaitan dengan data kependudukan, jumlah kependudukan, menyangkut masalah pendidikan, masalah kesehatan, masalah fasilitas jaminan-jaminan sosial yang lainnya; apabila tidak ada data yang akurat, kita tidak akan bisa mengambil keputusan yang tepat.

Contoh yang paling gampang adalah di kawasan Malioboro berkaitan dengan pembelian rumah penduduk. Kebetulan pada waktu itu, saya juga menjadi Ketua RW disana. Penduduk di kawasan RW saya, RW 10, itu ada 3.240 jiwa. Karena tanahnya strategis kemudian oleh beberapa orang kaya di Jakarta, di Inggris, dan di Amerika; tanah tersebut dibeli untuk didirikan hotel di sepanjang Jalan Sosrowijayan dan Jalan Dagen, sehingga sekarang sampai dengan sore ini penduduknya hanya tinggal 325 jiwa. Apabila proses pembeliannya tersebut asal membeli, kemudian tidak melalui data yang tepat, kita akan menerima banyak masalah. Contoh yang paling banyak adalah di RT 35. Penduduk yang terdaftar hanya 65 keluarga, itu setara dengan 150-180 jiwa. Tapi yang tinggal disitu tanpa kependudukan itu hampir 300 jiwa. Bagaimana harus memindahkan mereka, bagaimana harus memfasilitasi mereka supaya mereka juga mendapatkan tempat baru yang layak dan lain sebagainya. Itu dari data-data yang ada di SID. Berapa jumlah penduduk yang terdaftar, dan berapa jumlah penduduk yang domisili. Berapa yang potensial mereka yang harus kita pindahkan, berapa yang tidak boleh dipindahkan. Belum lagi menyangkut bangunannya, mana bangunan yang cagar budaya dan tidak, mana yang melanggar sempadan jalan dan tidak.

Dari situ harapan dengan adanya SID ini, dengan adanya pelatihan kemudian entri data yang benar, kita bisa saling mengontrol dan bisa merencanakan secara bersama-sama pekerjaan ke depan untuk kemajuan wilayah kita. Kepala desa, kepala nagari, dan lain sebagainya; akan mengambil keputusan sesuai dengan “rule-rule” yang ada dengan data yang ada di masyarakat. Sehingga masyarakat juga melakukan pengawasan maupun “counter” apabila ternyata keputusan tersebut tidak benar. Jadi saat ini SID yang diterapkan kemudian kita baru meng-entry datanya dan memasukkan, sementara ini masih untuk pelayanan publik untuk mencari surat-surat seperti yang disampaikan Mas Budi tadi, itu baru langkah awal. Baru 20 persen pekerjaan kita. Langkah berikutnya adalah penentu kebijakan tata rencana kegiatan, tata rencana anggaran, dan tata kelola wilayah masing-masing untuk pengembangan wilayah. Jadi memang seperti yang disampaikan oleh bapak wakil bupati tadi, perjalanan kita masih 2-3 tahun. Karena ini baru entry data, baru pelayanan publik, dan belum kearah pengembangannya. Diharapkan dengan pertemuan-pertemuan seperti ini kita akan bisa saling mengontrol, saling berbagi, apa yang bisa saya lakukan, dan apa yang bisa kamu lakukan untuk perkembangan wilayah kita secara lokal. Mungkin itu, Mas Joyo, yang bisa saya sampaikan. Terima kasih.

Elanto Wijoyono

Ya, mungkin dari teman-teman desa. Saya ingin mendapat pandangan juga dari workshop yang kemarin dan seminar hari ini dari teman-teman desa, karena tentu saja sudah datang dari jauh. Dan pasti kemudian harapannya, apakah dari workshop dan kelas-kelas belajar kemarin ada sesuatu yang memang bisa dipelajari seperti yang kemudian disampaikan Pak Djo terakhir. Setelah ini kita bisa melakukan sesuatu untuk desa kita masing-masing. Mungkin teman-teman dari desa yang masih ada disini? Monggo, Mas!

Penanya 1 (Bulu, Temanggung)

Assalamualaikum Wr Wb. Kami dari Desa Tegalrejo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung. Dari diskusi yang telah kita laksanakan dan workshop 2 hari ini yang telah kita laksanakan, saya sangat senang sekali. Artinya, dari sini memang begitu pentingnya SID dan kemarin juga kami baru merintis untuk wilayah Kabupaten Temanggung melalui Combine yang siap membantu disana. Tetapi disini manakala ada workshop, semangat kita juga lebih banyak lagi. Support-support yang kami dapatkan. Hanya kami, keterbatasan kami, itu sangat kurang. Sehingga kami sangat butuh sekali relawan-relawan, mungkin dari IDEA ataupun Combine, mungkin yang lebih bisa intensif. Artinya, dari workshop yang kita lakukan kita pun akan sampai rumah begitu menggebu akan memulainya, tetapi dengan keterbatasan kami sangatlah kurang. Sehingga kami begitu sangat butuh sekali campur tangan atau keterlibatan teman-teman relawan untuk bisa hadir di daerah Temanggung. Saya yakin kalau daerah Gunungkidul maupun Jogja sudah bisa jalan, tetapi khusus wilayah sana masih kurang sekali. Saya mohon perhatian dan campur tangannya, untuk menyambut SID ini lebih ke pengembangan ataupun perencanaan pembangunan yang ada di wilayah Temanggung, khususnya Kecamatan Bulu. Terima kasih.

Elanto Wijoyono

Terima kasih. Ada desa yang lain? Saya perlu tanggapan.

Penanya 2 (Kemalang, Klaten)

Assalamualaikum Wr Wb. Sebelumnya, perkenalkan kami dari Kemalang, Klaten. Hampir sama dengan permasalahan mas Temanggung tadi, yaitu kami dengan segala keterbatasan sebenarnya ingin melaksanakan program-program SID ini di desa kami. Tapi ya itu tadi. Pertama kali itu di desa kami terus terang perangkatnya, terus terang kami dari unsur perangkat desa, sebagian perangkat sudah tua-tua, Pak. Sementara itu kami harus mengampu pekerjaan yang ini akhir tahun begitu banyak, juga nanti di awal tahun buat program-program baru. Jadi, kami sangat membutuhkan supportsupport dari Combine maupun LSM lainnya untuk kami lebih semangat lagi. Nanti ending-nya itu ya kalau bisa teman-teman pemuda di Talun itu nanti diberi pelatihan-pelatihan sehingga kami bekerja tidak sendiri, Pak. Jadi kami ini merasa terbantu, syukur-syukur nanti pihak Combine bisa mengirimkan wakilnya yang terus disana, sehingga kami ini merasa benar-benar terbantu. Kami daritadi sudah merencanakan sepulang dari sini, mau saya buat seperti ini tiap RT. Mungkin mau ndata orang miskin dan seterusnya, tapi kemampuan kami terbatas. Tangan kami cuma dua, kaki kami ya cuma dua, jadi kami sangat berharap untuk pemihakan selanjutnya dari Mas Joyo bersama teman-teman biar nanti kami bisa banyak berbuat dengan adanya SID ini. Itu saja yang saya haturkan untuk apresasi acara ini. Wassalamualaikum Wr Wb.

Penanya 3 (Tasikmalaya)

Terima kasih, Pak. Saya dari Tasikmalaya, Pak. Saya secara umum saja, Pak. Saya kira desa-desa yang ada disini maupun di seluruh Indonesia secara kesiapan, komitmen, dan semangat pasti mau, Pak. Karena ini pasti menuju keadaan yang lebih baik. Namun yang jadi masalah seperti yang tadi disinggung oleh rekan kita, intinya pemerintah desa itu harus ada pendampingan, Pak. Harus ada motor penggerak. Karena saya di TKPK sudah beberapa tahun, kuncinya itu motor penggerak, Pak. Program apapun tanpa motor penggerak ya, hanya sosialisasi saja, hanya tahu saja tapi tidak akan dilaksanakan. Nah, salah satu motor penggeraknya yaitu Combine atau IDEA. Nah, saya harap IDEA dan Combine, atau lembaga-lembaga lainnya (NGO), ini lebih melebarkan sayapnya ke desa-desa khususnya di daerah Gunungkidul dan kalau bisa ke Jawa Barat, gitu Pak. Tanpa bantuan dari lembaga-lembaga ini, saya kira masih jauh untuk terealisasi hal ini, Pak. Karena diungkapkan untuk perangkat desa, kalau memandang perangkat desa ya untuk pekerjaan rutin juga keteteran, gitu ya Pak. Apalagi dengan program baru ini. Nah, tapi kalau nanti sudah ada motor penggerak, sudah jadi kan, sudah relatif tidak membutuhkan energi besar, hanya untuk pemeliharaan dan update itu sumber dayanya sedikit. Cuma untuk memulai dan membangunnya yang perlu energi besar. Sekian dan terima kasih.

Elanto Wijoyono :

Ya, terima kasih. Mungkin Pak Djo langsung ada masukan? Setelah itu juga saya bisa mencoba bukan merangkum tetapi apa yang bisa kita tindak lanjuti.

Yohanes Supramono :

Terima kasih. Yang pertama, mungkin permasalahannya semua sama. Hampir di seluruh desa, atau kelurahan, atau wilayah; berkaitan dengan sama. Ada kemauan untuk mewujudkan SID, tapi yang jadi masalah adalah sumber dayanya yang tidak ada, baik itu hardware maupun manusianya. Mungkin beberapa hal bisa difasilitasi, misalnya magang atau ikut serta, menyertakan pemuda-pemuda yang ada disitu. Karena, mohon maaf, sebagian besar perangkat desa rata-rata berusia sudah diatas 50 tahun. Tidak terlalu antusias berkaitan dengan teknologi dan selama ini bekerja sesuai dengan kebiasaan atau adatnya. Akhir tahun menyiapkan SPJ, pertanggungjawaban, dan lain sebagainya. Awal tahun merencanakan, di tengah tahun kalau ada masalah baru diselesaikan, seperti itu. Nah, dengan adanya SID nanti ritmenya akan kita urai sehingga tidak setiap awal tahun menyiapkan program, akhir tahun bertanggungjawab dari aplikasi-aplikasi yang ada di data tersebut. Nanti kita akan memudahkan untuk laporan pertanggungjawaban maupun pengerjaannya. Yang jadi masalah adalah tenaganya siapa?

Kalau dari pengalaman yang sudah saya lakukan, kita menyertakan orang-orang atau masyarakat yang mau peduli atau terlibat. Mulai dari karang taruna atau kelompok pemuda, itu kita ajarkan untuk mulai dari pendataan, mensosialisasikan, entry data, dan lain sebagainya. Saya yakin mereka masyarakat awam yang kita ajak kerjasama di desa akan lebih tertarik daripada perangkat desa yang sudah ada. Biasanya seperti itu. Karena (1) kalau filosofi Jawa, kita meng-orang-kan mereka untuk melakukan pekerjaan penting dan strategis demi kemajuan desanya, begitu. Jadi dengan kekurangan SDM dan lain sebagainya, mungkin yang bisa difasilitasi oleh Combine dan IDEA, atau yang lain-lainnya; juga desa sendiri harus menyiapkan kader-kadernya, terutama berkaitan dengan keterlibatan masyarakat. Karena, mohon maaf, SID ini mau tidak mau akan melibatkan masyarakat secara langsung.

Jadi perbedaan aplikasi ini dengan aplikasi yang ada sekarang adalah keterlibatan. Kuncinya disitu. Kalau yang dulu semacam profil desa, administrasi data kependudukan, semua dilakukan oleh perangkat desa, cukup baik manual, ketik, atau tulisan tangan kemudian dikirimkan. Sedangkan aplikasi ini kita menggalang kerjasama antara masyarakat dengan perangkat desa dan pemerintah. Sehingga disitu akan saling mengisi dan saling mengerti. Kemudian, ada langkah lagi yang lebih efektif berkaitan dengan keterbatasan SDM. Biasanya apabila beberapa desa sudah mau melakukan bisa diakali, atau menggunakan teknik jemput bola beberapa di desa yang lain akan bergabung di desa yang satu untuk saling men-support. Mungkin itu.

Elanto Wijoyono :

Ya, terima kasih Pak Djo. Kira-kira ini semoga akan menjadi rencana tindak lanjut bersama. Pasti kita semua optimis usia SID masih sangat akan panjang, tetapi akan ada tahap-tahap yang nanti kita akan petakan bersama-sama. SID walaupun inisiasi awalnya masih banyak terpusat perannya di Combine, tetapi kemudian bertahap akan semakin melebar perannya itu bisa dilakukan juga oleh lembaga-lembaga atau komunitas yang lain. Jadi misalnya seperti di Gunungkidul ini, ketika kita bicara penerapan sistem informasi desa, ada teman-teman IDEA dan juga jaringan rekan-rekan di desa. Di Kebumen ada teman-teman Formasi, terus di lingkar Merapi ada beberapa lembaga termasuk UNDP juga sedang memiliki program disana. Jadi intinya, ketika tadi kita berharap ke depan, mau enggak mau desa tetap akan memerlukan teman untuk belajar dan mengembangkan diri dengan SID.

Kita nanti yang antara lain melalui model yang sudah dilakukan Combine dan IDEA di Gunungkidul sebagai contoh itu bisa kita replikasi untuk skema itu, bisa kita lakukan bersama untuk wilayah-wilayah yang lain. Tetapi memang harus disadari yang namanya lembaga seperti Combine itu tidak bisa akan ada selamanya, sehingga memang harus ada skema jangka panjang yang harus kita siapkan. Di beberapa daerah, seperti Gunungkidul dan Temanggung, kita juga sudah mencoba merencanakan arah untuk melibatkan kelompok-kelompok sekolah. Tadi yang Pak Djo sampaikan magang atau sejenisnya. Kelompok-kelompok SMK, TKL, bisa diarahkan ke desa-desa. Jadi mungkin termasuk untuk teman-teman dari luar kota, dari jaringan SAPA, kalau misalnya ke depan tertarik untuk juga ikut inisiatif SID dan AKP, tentu saja selain ada lembaga lokal yang berperan, kita juga bisa melibatkan lembaga pendidikan. Bisa dimulai untuk hal paling yang sederhana, pelatihan komputer dan troubleshoot, tapi ke depan mereka bisa memiliki peran yang lebih besar bahkan sampai untuk mengembangkan sistem dan mengembangkan skema pemanfaatan yang lebih luas, seperti itu.

OK, semua yang kami dapatkan selama 2 (dua) hari ini, itu akan melengkapi catatan perjalanan SID dan juga AKP selama 1 atau 2 tahun berjalan yang lalu. Nah, ini semua akan kami rangkum, saya di Combine dengan teman-teman; dan juga teman-teman IDEA, dan teman-teman desa. Akan kemudian menggunakan ini untuk mencoba membuat catatan perencanaan ke depan tahun-tahun berikutnya tidak hanya di Gunungkidul, tetapi disini ada rekan-rekan dari daerah-daerah lain juga. Nanti kita bisa teruskan komunikasi untuk mencoba meneruskan atau memulai kolaborasi, seperti itu. Sangat mungkin nanti skema di setiap daerah bisa jadi ada yang berbeda, sangat mungkin. Itu nanti kita lihat kemungkinannya bersama-sama, tapi pada prinsipnya SID sebagai sebuah inisiatif yang terbuka itu bisa diterapkan, dimanfaatkan, dan dikembangkan oleh siapapun. Prinsip dasarnya itu, kemauan untuk belajar. Jadi ini adalah pilihan terbuka. Tidak ada kewajiban disini, tetapi ketika ini dilakukan mari kita lakukan dengan kesadaran bahwa kita mempelajari hal yang akan pasti bermanfaat untuk kita. Selanjutnya kita bisa dengan diskusi informal. Forum tidak saya tutup karena memang nanti malam masih ada acara lanjutan, tetapi ini saya hanya akan mengakhiri sesi tambahan karena seminar tadi juga sudah ditutup. Ini akan tetap kami lanjutkan nanti malam ada diskusi dan pemutaran (peluncuran) film tentang AKP, sehingga jika teman-teman peserta yang bukan dari luar daerah, bisa tetap berada disini (ditempat) itu akan lebih baik. Kita disini bisa melanjutkan diskusi dengan teman-teman tentang masa depan SID dan AKP di daerah masing-masing.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama COMBINE Resource Institution, Perkumpulan IDEA, dan SIAR dengan dukungan Ford Foundation dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.