GREGET DESA – 13 Desember 2013

Fasilitator: Halik Sandera (WALHI Yogyakarta)
Tempat: SDN Doga, Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul
Pukul: 14.30 – 17.00

Lingkungan hidup dimulai sejak dari tingkat keluarga dan rumah tangga. Pengelolaan lingkungan di lingkup yang terkecil dan terdekat akan membantu menjamin kualitas kelestarian lingkungan hidup yang sehat bagi komunitas desa. SID yang telah mampu menghimpun data dasar dan data potensi hingga tingkat keluarga akan sangat potensial digunakan untuk menguatkan proses pengelolaan lingkungan berbasis data desa.

—-

Presentasi:

Nama saya Halik Sandara yang lebih di kenal dengan dengan Cepot. Saya di mandatkan oleh teman-teman Walhi menjadi direktur, wilayah kerja walhi ada di kawasan Merapi, Perkotaan, Menoreh, Pesisir dan kawasan karst. Perundangan di Indonesia yang mengatur tentang lingkungan ada di UUD 1945 pasal 28 h yang intinya setiap manusia berhak mendapatkan lingkungan yang baik. Dalam HAM juga intinya sama setiap orang berhak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dalam UU 32 pemerintahan daerah juga mengatur tentang lingkungan ada 2 point yaitu pertama pemerintah daerah mengatur tentang pengendalian lingkungan hidup yang ke dua pemerintah daerah berkewajiban dalam melestarikan lingkungan hidup. Undang-udang yang lain yang ada kaitanya dengan lingkungan hidup tentang tata ruang, setiap penataan ruang berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Secara arti lingkungan hidup merupakan satuan ruang, dalam kajian lingkungan hidup tidak berbasis pada adminitrasi tapi berdasarkan ekologi, berbasis seperti sungai, hutan atau pegunung. Tinggal bagaimana pengelolan lingkungan hidup. Pelestarin lingkungan hidup bagaimana bisa mencukupi kebutuhan manusia dan mahluk hidup lainya dalam interasi ekonomi, social budayanya dan yang kedua daya tampung lingkungan hidup bagaimana lingkungan hidup itu mempunyai kemampuan menampung aktifitas mahluk hidup, seperti sampah dll, dan mempunyai batasan maksimal yang di sebaut baku mutu ligkungan hidup. Krisis lingkungan ada penyebab alih fungsi lahan dan penyemaran kedua dampak masalah tersebat menyebabkan adanya wabah dan bencana ekologis. Penyebabnya penyemaran lingkungan, seperti contoh di wilayah industry ada sebauh industry diwajibkan membuat IPAL tetapi ada industry yang pembuangan limbah secara illegal, dalam arti sembunyi2 biasanya di buang pada saat musim hujan atau pada saat hujan, di Jogja ada industry kulit tidak mempunyai IPAL mereka membuang di sungai gajah Wong, biasanya airnya berbusa. Dampak dari kerusakan lingkungan munculnya wabah penyakit, biasanya penyakit yang berkembang ISPA, diare. Jaman dahulu WC tidak mengunakan closed yang hanya ditutup mengunakan kayu, biasanya tidak berdampak langsung biasanya penyebaranya oleh hewan, menyebabkan diare. Dampak yang lebih besar kta menyebut bencana ekologis, seperti pencemaran udara, air, yang dampanyak dirasakan cukup lama tai efeknya sangat berbahaya. Berkaitan dengan memanfaatkan SID kita mendapatkan data kependudukan atau informasi sumberdaya alam sebagai basis untuk perlindungan lingkungan hidup, dalam skema lingkungan hidup ada di perencanan, pemanfaatan, penegndalian, pemeliharan, pengawasan dan penegakan hukum. Kita focus dalam perencana pelindungan lingkungan hidup pada SID. Di Negara kita mengenal ada dua musim, musim kemarau dan musim penghujan. dimulai denga identifikasi penyakit yang di tibulkan pada musim panas maunpun dimusim hujan. Seperti apa penyebaran yang di timbulkan dimusim hujan dan di musim penghujan dan bagaimana penyebaran penyakit. Misalkan penyebaran penyakit di musim hujan ada ISPA dan di musim hujan wabah penyakit diare, bisa di lihat dari rumah warga yang sudah mempunyai standar sanitasi yang baik missal berapa yang sudah mengunakan WC yang sudah menggunakan sapiteng dan berapa yang belum menggunakan WC belum mengunakan sapiteng. Sehingga penyebaran wabah penyakit itu dapat di ketahui. Dengan menggunakan peta ini dapat dilihat dari perencanan desa berapa yang punya sapiteng sehingga akan ketahuan berapa yang rentan dengan penyakit diare, sehingga dalam perencanaan desa dalam pengelolan lingkungan hidup khususnya sanitasi. Atau dalam pengelolan sumberdaya alam yang lain, bagaimana SID dapat menginventarisasi sumber daya alam di suatu desa, misalkan di suatu desa berapa sumber mata yang ada di desa itu, dan berapa yang digunakan. Proses perncananaya dapat di liat dari penyebaran jumlah penduduknya, bagaimana penggunaan sumber mata airnya, bagaimana pesebaran rumah-rumah penduduk, terkait dengan sanitasi apakah penduduk di satu kawan desa sudah menggunakan sapiteng? jika belum mengunakan sapiteng perencanaannya tidak mengunakan sapiteng perumah-rumah tapi dapat menggunakan IPAL komunal dalam pembuangan limbah rumah tangga, sama halnya seperti tadi dimana kawasan yang harus di lindungi mana kawasan budidaya untuk pemukiman, untuk pertanian. Meskipun tidak semua petani menggunakan pupuk organic, pasca revolusi industry petani mempunyai tegantungan terhadap pupuk kimia. Dalam pengelolan lingkungan hidup, bagaimana penggunaan pestisida yang tentunya berpengaruh terhadap penggunaan sumber mata air, misalkan lokasi pertanianya ada di atas sedangkan sumber mata airnya ada di bawah tentunya sumber mata airnya tercemar dan sumber mata air terebut digunakan masyarakat. Ini tadi kita lebih mengingat kembali dan memaknai lingkungan hidup, yang paling penting dalam linkungan itu kita mengetahui daya dukung dan daya tampung lingkungan. Kita harus mengetahui seberapa lingkungan itu mendukung aktivitas manusia dan Seberapa besar atau sampai batas manakah kemampuan lingkungan itu mampu menampung sisa-sisa aktivitas kita, sehingga selain potensi kita dalam proses perencanaan dapat membuat sumbedaya buatan, seperti sapiteng. Sumberdaya buatan di buat untuk mengurangi dampak kerusakan yang lebih parah yang timbulkan dari aktivitas manusia. Itu sebagai pengantar diskusi

Diskusi :

Elanto Wijoyono / Joyo: apakah ada cerita di daerah mana walhi pernah berkerja?

Halik : kegiatan yang dilakuak dengan pemetaan partisipatif ada data potensi dan menghasilkan dokumen perencanaan sedangkan data spasial menghasilkan peta. Peta ini di presentasikan dalam musrenbang sehingga dalm proses perencanan mengacu pada peta dan di ikuti oleh dusun-dusun di satu desa. Kemudian dalam peta tersebut di bawa di musrenbang kecamatan dan di presentasikan sebab dalam perencanaan tata ruang paling kecil penataanya di wilayah kecamatan. Baik di wilayah ekonomi, perlindungan sumberdaya alam dan lain-lain. dalam perancanan di suatu desa ada hutan ada kebutuhan tebang butuh, jika di suatu wilayah banyak petani ada dalam pemetaan bagaimana petani dalam perencanaan membauat pendapatan jangka pendek dan jangka menengah, dari proses perencanaan mampu mendorong petani bagaimana mengurangi ketergantunga terhadap benih yang harus beli, di beberapa daerah petani mampu membuat benih sendiri. Dan bagaimana pengelolaan pupuk dan pestisida secara mandiri.

Irman:  pemerintah mempunyai peta sendiri, dan mempunyai indeks wilayah yang dapat di tarik, sementara warga mengetahui wilayahnya dan kebutuhanya, SID sudah mepunyai ruang itu semua, tinggal bagaimana tinggal menginisiasi, misalkan walhi melakukan penelitian dijadikan sheering, tinggal kemuan bersama kita menggabungkan.

Halik : suatu contoh merapi kemarin mengasilkan pasir yang banyak, pada saat ini kebutuhan di ambil terlebih dahalu untuk menormalisasi air, dalam proses normalisasi yang terjadi sekarang yang diambail pasir yang bagus, yang seharusnya normalisasi sungai itu tidak hanya pasir saja yang di ambil tetapi semua ada batu, pasir dll sehingga aliran sungai itu sesuai dengan sebelumnya. Sementara dampak likungan yang di timbulkan dari normalisasi adanya ketidak jelasanya jalur yang di lalui untuk jalur evakuasi dengan jalur galian C, kedua-duanya jalurnya dipakai yang seharusnya ada perbedaan, sedangkan sekarang tidak ada pembedaan jalur, sehingga dampaknya masyarakat yang dilewati truk galian C banyak warga yang terkena ISPA, sebab banyak debu yang dibawa truk pengangkut pasir dan batu, dan yang kedua sebagian pertanian terkena dampak. Dibutuhkan ketegasan dan kecepatan pemerintah dalam mengatur itu semua. Sebagi contoh di gunungkidul kita membuat peta kawasan bentang karst, bagaimana kawasan tersebut benar-benar di lindungi dari penambangan, sebab akan berdampak pada sumberdaya air yang ada di sana, jika kawasan tersebut masih di tambang akan berpengaruh terhadap debit air yang ada di bribin dan beberpa lokasi lainya. Sungai bawah tanah di gunungkiul belum di ketahui di mana alur sungai bawah tanah. Seharusnya di kawaan karst di gungkidul tidak bisa di batasi kewilayahan tetapi bentangan ekologi, bantul, gungkidul, wonogiri sampai dengan pacitan. Untuk itu pemerintah duduk bareng dalam pengelolan dan pengendalian kawasan karst tersebut. Dalam konteks penerapan SID dalam lingkungan pertama bisa dalam penetuan data dasar kependudukan kemudian menentukan indicator seperti teman IDEA dalam menentukan kemiskinan, tapi pada bentang wilayah ekologi, seperti perkotan idikatornya apa?pesisir apa? Pegunungan sepertai apa? Tentunya berbeda dalam pengelolan lingkungannya. Bagaimana indicator pengelolan lingkungan di wilayah perkotaan indikatornya seperti apa? Di sleman sepertia apa? Pedesan yang kemiringanya 45 derajat seperti apa? Seperti di daerah menorah yang setiap tahunya ada bencana tanah longsor seperti apa perencananya dalam menangulangi bencana? Sebenarnya wilayah konservasi di sana terganggu. Bagaimana wilayah konservasi atau lindung dikelola bersama bukan secara individu. Bagaimaa pengelolan lingungan hidup dalam pengelolan dilakukan secara bersama bagaimana wilayah pengunungan, bagaimana perkotaan bagaiamna pesisir. Sebab wilayah ekologinya tidak bisa dipisahkan, seperti di DAS serayu opak progo. Bagimana komuikasi dari wilayah hulu, tengah dan pesisir itu penting. Sebagai contoh di Yogyakarta di DAS Opak belum ada komunikasi bagi mana mengelola wilayah hulu, tengah atau di pesisir sepert apa?

Joyo: apa yang bisa yang bisa didata oleh desa setelah penduduk dan bagaimana adakah metode atau cara mana yang didata terlebih dahulu, apakah dimulai dari krisisnya atau dari potensinya. Apakah ada contoh yang pernah dilakukan

Ardian: berbagi pengalaman dari solo kota kita, kita sudah melakukan pendataan dan pemetaan dengan data spasial, kita sudah melakukan dan kami menyebut city map maping. Pemetan perkoataan pemetaan sudah dilakuakan lebih dari 4 tahun. Kita memasukan data anak putus sekolah dengan mengunakan GIS sehingga diketahui dimana kerawananya. Dalam periode dua tahun ini kita mengenalkan model pemetaan partisipatif dengan model mini atlas disini kita tidak hanya sekedar berbicara jumlah tetapi dimana lokasinya? Pada waktu musrenbang kemarin warga di minta memasukan dalam peta kemudian didentifikasi kemudian ditemukan dalam peta ditemukan jalan rusak, ada wabah DBD karena ada genangan air sehingga dalam proses Musrenbang, dapat di ambil kesepakatan mana yang menjadi skala priotas pembangunan. Berkaiatan dengan lingkungan di situ juga memtakan ruang terbuka hijau, kita memetakan dimana ruang terbuka hujau yang ada di solo. Seberapa jauh masyarakat dapat emngakse ruang terbuka hijau tersebut. Sehingga dapat di ukur peningkatan kualitas hidupnya semakin jauh dari ruang terbuka hijau bisa dikatakan semakin rendah kualitas hidupnya. Kalau berbicara tentang lingkungan ini kita tidak hanya berbicara tentang berapa jumlahnya tetapi dimana lokasinya dan bagaimana pola terkaitanya dengan masalah tadi.

Halik: terima kasih itu di konteks kota, artinya ada perebedaan dalam proses perencanaan antara perkota dan pedesa dalam kebutuhan, pengelolan lingkungan, dalam kota pembaguan wilayah RTRW ada 30%, 10% untuk privat dan 20% untuk public. Dalam RTRW berapa ruang terbuka hijau dan berapa poteni unuk di jadikan ruang terbuka hujau. Sehingga membuat masyarakat lebih dekan dengan ruang terbuka hijau sehingga kualitas masyarakatnya lebih baik dan intraksi sosianya jai lebih baik, sehingga masalah-masalah social perkotaan dapat di kurangi. Terkait dengan yang di katakana mas joyo, berkait dengan wabah di suatu wilayah ada DBD penyebaranya melalui nyamuk, perkembang biaknya dengan genangan air, ada sampah, ini yang harus dipetakan. Ini ada terkaitan satu sama yang lainya seperti apa? Bagimana perencanan membenahi yang mana terlebih dahulu missal samapahnya terlebih dahulu, selokanya yang mampet. Kalau wabah diare bagaimana yang dicari penyebabnya terlebih dahulu bisa di sebabkan oleh sampah atau sanitasi yang buruk? Atau pembuangan limbah masih terbuka itu bisa menjadi analisa dan bisa jadi menjadi prioritas pembangunan.

Joyo: paling tidak teman-teman desa mengidentifikasi penyakit yang di timbulkan.

Halik : di musim kemarau dan penghujan akan berbeda penyakit yang terjadi berbeda.

Joyo: desa memulai pendaatan dari penyakit, dari data PKK kemudian dimasukan dengan SID kemudian melakukan analisis kenapa peneybab tersebut. Saya mencoba merumuskan SID di lingkungan desa di mulai dari desa sebab lingungan terlalu luas. Dari analisis desa bisa memulai pengurangan resiko bencana.

Halik : dari kwalitas lingkungan yang buruk indicatornya adalah banyak timbul banyak penyakit menular.

Bambang Hery: dalam perencanan harus komprehensip, jika akan membangun jalan ada analisi dampak lingkungan, bagaimana SID juga mampu membntu perencanaan sehingga kwalitas perencanan pembagunan lebih komprehensip, jangan sampai pembangunan menjadi bencana baru.

Anton Birowo: kalau SID hanya berbicara data kependudukan saja, jika proses perencanan dibantu dengan peta bisa membantu kesaman visi sebab bayangan setiap individu berebeda-beda. Sehingga mampu membantu memecahkan masalah di desa.

Ardian : basis kita pada saat itu dengan peta membantu warga dalam perencanan, sehingga membantu pilihan warga, mana yang menjadi basis dari keinginan, dan mana yang menjadi basis kebutuhan. Sehingga menudahkan pemetan seperti di AKP, ada proses silang klarifikasi.

Halik : bagaimana SID di gabungkan dengan data spasial

Ardian: dengan peta warga diajak melihat dimana peta masalahnya, sebab warga yang mengenali wilayahnya. Sehingga membantu warga dalam proses perencanaan, sehingga mengetahui dimana basisnya keinginan dimana yang basisnya lebutuhan. Dalam kita data jumlah KK, jumlah jiwa, jumlah anak, lokasi rumah sakit, lokasilayanan kesehatan, jumlah RTLH, itu di bungkus dalam konsep GIS per RT, suatu contoh jika ada program rumah layak huni, warga bisa menentuk dimana lokasinya, sehingga intervensinya bisa lebih tepat sasaran dan tepat.

Anton Birowo : apakah di Solo mengunakan foto, foto membantu dalam kepemilikan warga lebih, sekaligus visualisasi banyak membantu.

Ardian: SID luar biasa tinggal bagaimana pengembangan

Bambang Hery: ketika saya melihat peta bagaimana cara menganalisnya sampai memutuskan program. Bagaiamna peta yang dibangun dapat mempermudah warga untuk dibaca warga,

Irman : dalam peta mau terbuka atau tertutup kalu terbuka sudah banyak programnya

Pemdes Dukun: bagaimana masyarakat mudah mengakses, bagaiman pikiran masarakat menjadi data, contoh lokasi penambangan dan jalur transpotasinya, ini desa sudah menyampaikan ke pemangku kebijakan tetapi selalu tidak ada jawaban, bagaimana SID mampu mengabungkan permasalah itu

Pemkab Gunungkidul: wonosari kebanjiran karena penangan yang kurang baik, karena penanaman di lingkungnan sungai dan pembuangan sampah, ini dibutuhkan perhatian, dalam prilaku masyarakat.

Halik : banjir di wonosari ada permasalahan di hulu dan ada permasalahan prilaku, bisa di cek bagaiman aktifitas di hulu, bagaimana daerah tangkapan air apakah bermasalah, misalkan terjadi alih fungsi.

Joyo: terimakasih mas Halik alias mas cepot aplus untuk kita semua,diskusi hari ini lebih bersifat tawaran untuk desa bagaimana SID bisa di manfaatkan lebih jauh. Diskusi ini tidak hanya untuk desa saja atau teman-teman yang diskusi di sini, nanti tim pengembang akan mencoba menurukan dan mencari formulasi yang lebih mudah di terapkan di desa.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama COMBINE Resource Institution dan Perkumpulan IDEA dengan dukungan Ford Foundation dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.