GREGET DEA – 13 Desember 2013

Fasilitator: Rinto Andriono (UNDP), Mart Widarto
Tempat: SDN Doga, Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul
Pukul: 19.30 – 21.00

Salah satu hal yang selalu berulang pada setiap kejadian bencana adalah data yang tak akurat yang menjadi proses penanggulangan bencana tidak berjalan dengan baik. Pendataan di wilayah bencana sering dilakukan justru ketika bencana sudah terjadi. Dengan SID, data desa bisa dibangun sebagai bagian dari skema mitigasi di tingkat desa. Sejumlah studi kasus dan gagasan penerapan SID untuk mendukung inisiatif pengurangan risiko bencana di tingkat desa dan antar desa akan didiskusikan dalam sesi ini.

—-

Daftar Hadir Peserta Workshop:

No

Nama

L/P

Lembaga

Alamat

1.

Rusmiyatun

P

JMKP

kulonprogo

2.

Jainu

L

Desa

Balerante

3.

Sudiman

L

Desa

Sidorejo

4.

Sriyanto

L

Desa

Sidorejo

5.

Sri widagdo

L

Desa

Sidorejo

6.

Widodo

L

Desa

Balerante

7.

Darwono

L

Desa

Balerante

8.

Mart Widarto

L

MRR

Jambidan

9.

Agus M

L

Pemdes

Dukun

10.

Isnawati

P

IDEA

Jakal km 5 Yogyakarta

11.

Sukamso

L

Desa

Kebumen

12.

Widodo

L

Desa

Dukun

13.

Yudan

L

DRR GK

Wonosari

14.

Ardrian

L

SKK

Solo

15.

Mujianto

L

Pemdes

Boyolali

16.

Suman

L

MMC

Boyolali

17.

Humam Z

L

MRR UNDP

Yogyakarta

18.

Yoga Putra

L

IDEA

Jakal km 5

19.

Rinto A

L

MRR UNDP

yogyakarta

Mart

Assalamualaikum wr, wb. Matur nuwun bisa hadir, kelas ita yang rencananya jam setengah 8 sampai jam 9 saya harap ada ide dan gagasan yang muncul kalau tidak jadi PR bersama. Saya mendaulat diri saya jadi fasilitator. Salah satu teman ini ada mas rinto andriono, nanti akan berkenalan sendiri, beliau akan membuka, menarik dan menggelitik. Sebelumnya saya ingin mengenalkan diri saya mart widarto bersama mas rinto di MRR UNDP dan kebetulan masih dalam ospek, bersama mas humam zarodi. Apa yang dilakukan oleh teman-teman bisa dibagikan apakah yang dinamakan SID kebencanaan. 10 menit mas rinto bisa membuka wacana. Sebelumnya saya minta kepada ahli hisap untuk menonaktifkan dulu supaya lebih kondusif.

Rinto menjelaskan tentang situasi bencana, kejadian bencana dalam 10 tahun terakhir, karakter bencana dan kesiapsiagaan data untuk manajemen bencana yang ada di slide

  1. Peningkatan signifikan atas kejadian bencana dalam 10 tahun terakhir.

  2. Indeks Rawan Bencana Indonesia 2012: lebih dari 80% (386) dari total kabupaten (494) di Indonesia adalah rawan bencana

  3. Masih ada kesenjangan kapasitas dalam manajemen bencana di Indonesia dimana seluruh provinsi (33) sudah memiliki BPBD dan Baru 340 dari 494 (69%) kabupaten/kota yang memiliki BPBD

  4. Masih banyak ketidaksinkronan kebijakan penanggulangan bencana dengan kebijakan lainnya terutama kebijakan perencanaan pembangunan desentralisasi dan keungan

Variabel

Jenis Bencana

Intensitas Tinggi

Intensitas Rendah

Contoh Tsunami,Gempa Bumi,Erupsi Gunung Berapi,Tornado,dll Kekeringan,Banjir, Wabah Penyakit,Gagal Panen, dll
Karakter Frequensi rendah,korban masif,daerah terpapar luas Frequensi tinggi,korban parsial,daerah terpapar terbatas
Dampak terhadap aset sosial Menghancurkan hampir semua aset di semua kelas kesejahteraan Menghancurkan aset kehidupan kelompok marginal
Respon negara dan donor Besar Rendah bahkan karena sering terjadi dianggap tidak penting
Dampak terhadap kemiskinan Besar namun ada penggantian aset dari negara atau donor Besar dan tidak ada penggantian aset dari negara atau donor

Penjelasan.

Rinto

Bapak, ibu Assalamualaikum, sugeng ndalu. Kesempatan kali ini saya hanya mengantarkan untuk kita berdiskusi, tapi inti utamanya bagaimana bapak ibu, sebagian dari anda punya pengalaman, kami punya pengalaman. Kalau pengalaman dipertukarkan membuat anda punya lebih banyak pengalaman, sebagai pengantar untuk kita diskusi. Ada beberapa fakta yang perlu kita cermati. Yang pertama adalah ada peningkatan kejadian bencana dalam 10 tahun terakhir. Kalau bapak ibu yang kemarin kena bencana merapi jangan khawatir karena temannya banyak, kita lihat kenaikannya sangat signifikan, kalau bapak ibu lihat yang warna biru dari tahun 2003 sampai 2010 ini yang biru adalah kejadian-kejadian bencana yang terkait dengan air, banjir, banjir bandang, air bah, sayangnya tsunami kaitannnya dengan gempa bumi, gempa bumi yang warnanya hijau muda dan tidak terlalu besar, yang cukup besar terkait dengan air tapi sebaliknya turun drsatis karena bencana terkait banjir naik kalau yang warna kuning ini terkait dengan air tapi kekeringan dan turun drastis ditahun 2009 dan tahun 2010 turun karena kejadian hujan naik, Angin besar juga meningkat yang warnanya merah pink di tahun 2009 jumlahnya signifikan 400 kurang sedikit, yang jadi persoalan jumlah korban jiwanya. Meskipun kejadiannya sedikit, tapi jumlah yang mati cukup banyak sekitar 100an 2003 dan tahun 2004 1000an orang tahun 2010 naik jadi 1000. Kalau dilihat kejadiannya naik terus tapi korbannya turun. Bacaannya bisa jadi kerja-kerja risiko bencana sudah lumayan bagus untuk bencana banjir, bisa jadi kerja-kerja pengurangan risiko bencana tahun 2008, 2009 lebih baik sehingga korbannya jadi berkurang. Kaitannya dengan SID mungkin sistem informasi terkait bencana ini jauh lebih baik, siapa yang diungsikan segera siapa yang belakangan berdasarkan prosedur yang baik sehingga meskipun frekuensi banjir sangat tinggi namun korbannya turun. Ini menunjukkan hubungan yang saling berkebalikan, meskipun satu nyawa itu adalah tragedi. Ini hanya statistik, ini hendak menunjukkan seberapa jauh kita sudah berupaya. Terkait dengan rumah yang hancur, kita lihat yang biru ditahun 2001 ketika banjirnya dibawah 10 rumah yang hancur 1200an terus kejadian yang tinggi sama dengan tahun 2001 dan 2002, mungkin bacaan-bacaan ini mungkin disebabkan struktur rumah yang lebih aman, mungkin juga banjir-banjir tidak banyak mengenai rumah tapi lahan sawah, karena kalau lihat jumlah panen dan sawah yang hancur jumlahnya cukup stagnan, tidak naik atau turun. Jumlahnya 100 ribu hektar terdampak. Ini infromasinya bapak ibu tidak usah khawatir dikampung halaman anda terkena bencana karena temannya banyak. Kalau melihat indeks rawan bencana dikabupaten di indoensia, adalah rawan bencana ini adalah angka yang menunjukkan tingkat bencana kabupaten-kabupaten yang ada di Indoensia, jadi kalau anda dari sleman, temanggung jangan khawatir karena masih banyak temannya ada 80% atau 386 kabupaten di Indonesia yang rawan bencana, kemudian sisanya adalah kabupaten yang tidak pernah kena bencana kalau pilpres jelas kalau dengan 386 kabupaten yang rawan bencana. Oleh sebab itu kabupaten yang rawan bencana jadi populer, mudah-mudahan ini tidak dipolitisir untuk pemenangan kekuasaan. Dan yang punya BPBD baru 33 kabupaten. Yang masih menjadi persoalan kita adalah ketidaksinkronan kebijakan penanggulangan bencana. Masih banyak ketidaksinkronan kebijakan penanggulangan bencana dengan kebijakan lainnya, terutama kebijakan perencanaan pembangunan, desentralisasi dan keuangan. Ada dua karakter bencana yaitu bencana intensitas tinggi dan intensitas rendah. Pertanyaan saya yang sering terjadi yang grosiran atau eceran. Kalau dilihat jumlah bencana yang sering terjadi yang warna biru. Yang eceran ini yang sering terjadi. karakternya yang grosiran itu jarang terjadi tapi korban dan paparannya lebih luas. Kalau yang intensitas rendah itu banjirnya sering tapi korban dan paparannya terbatas. Mengapa demikian karena kalau bencananya yang kecil-kecil ini dia tetap membuat orang tetap dalam garis keimiskinan. Pentingnya kesiapsiagaan data, yang pertama situasi aman, yang kedua tiba-tiba potensial bencana, kalau potensial terjadi longsor ini kita harus siap-siap siapa dulu yang akan kita tolong, setelah tanggap darurat orang-orang yang beberapa hari harus diberi tempat tinggal, kalau sebulan kan nggak mungkin pakai tenda, dan inilah nnati yang harus disiapkan hunian sementara, nah hunian sementara ini apakah akan bertahan lama nah ini yang harus disediakan hunian tetap. Pengalaman dari ketidaksiapan data, ingat erupsi merapi tahun 2010 bulan oktober kira-kira rumah-rumah mulai dibangun tahun 2012 jadi antara tahun 2010-2011 ada jeda 2 tahun, proses yang lama ini karena saat itu belum ada tersedia data yang lengkap berdasarkan variabel-variabel. Yang relokasi dan tidak relokasi. Ini situasinya bapak ibu bagaimana nanti kira-kira informasi desa ini seperti apa. Nanti diskusinya akan dipandu oleh mart. Saya mau bercerita tentang kesiapan data, tentang situasi aman, potensial bencana, tanggap darurat, pemulihan awal, rehabilitasi dan rekonstruktsi. proses yang lama ini karena pada saat itu belum ada data yang memadai, beberapa teman-teman yang relokasi dan tidak relokasi. Sotuasinya bapak ibu bagaimana nanti melengkapi tahapan-tahapan bencana. Nah dengan persoalan ini kira-kira SID nanti bisa membantu seperti apa.

Mart

Matur nuwun mas rinto, saya baru mengenal istilah grosran dan eceran, ternyata yang cukup jadi pertimbangan masayaarakat bertambah miskin adalah bencana eceran, kemudian relevansi disiklus dalam proses siklus bencana ternyata membutuhkan data, nanti yang akan kita obrolkan bersama, njuk SID itu akan berperan dimana, tapi sebelum kita diskusikan mungkin ada pertanyaan, pernyataan atau ada gagasan. Monggo ada? Kalau tidak saya ingin memancing teman-teman semuanya memulai untuk nntn film dulu . kebetulan bintang filmnya ada disini juga

Jeda nonton film sejak jam 20.40 wib

Film tentang sistem informasi desa yang bisa mensupport “SID untuk kebencanaan”

Selesai jam 20.55 wib

Mart

Cilokonya yang nonton film yang jadi pemain disini semua, kalau teman-teman ingin meminta film ini nanti nyolok flash dilaptop mas humam. Apakah ada pertanyaan dari paparan mas rinto dan dari nntn film. Dan apa komentar untuk didiskusikan.

Kita akan berdiskusi saya berharap supaya tidak terlalu banyak kita bagi 2 kelompok. Pertanyaannya

  1. SID berperan dimana dalam siklus kebencanaan?

  2. Data apa saja yang dibutuhkan dalam siklus kebencanaan?

  3. Apa guna data yang sudah dikumpulkan oleh pemerintah desa?

  4. Bagaimana proses pencarian datanya?

Dilanjuntkan dengan diskusi kelompok.

Hasil diskusi kelompok 1

  1. Peran SID dalam siklus kebencanaan

  1. Pra bencana

  • Mengetahui potensi

  • Basis data kependudukan

  • Pelayanan publik

  1. Saat bencana

  • Pendataan pengungsi

  • Mengetahui kelompok rentan

  • Distribusi bantuan

  • Pengetahuan basis data untuk recana pembangunan

  • Bertindak cepat

  1. Pasca bencana

  • Verifikasi data

  • Pembangunan tepat sasaran

  • Pemulihan terstruktur

  1. Data yang dibutuhkan dalam siklus kebencanaan

  • Data monografi atau kependudukan

  • Data asset masayaarakat (ternak, lahan, rumah dll)

  • Lokasi pengungsian dan jalur evakuasi

  • Fasilitas sosial dan fasilitas umum

  1. Cara mengumpulkan data

  • Mengumpulkan data kependudukan

  • Data asset melalui ketua RT

  • Peta desa

  1. Manfaat data yang dikumpulkan

  • Up date data berkala

  • Perencanaan pembangunan

  • Pengajuan bantuan

  • Pemilu

  • Pelayanan publik

  • evaluasi

Hasil diskusi kelompok 2

  1. Peran SID

  • Menginventarisir asset desa

  • Mengetahui jumlah penduduk menurut kelompok umur

  • Bisa melihat potensi kerentanan desa

  • Dalam kondisi darurat data yang dibutuhkan : lansia, balita, berkebutuhan khusus dsb.

  • Membantu memberikan data dalam proses demokrasi

  • Mengetahui peta desa dalam peta sosial desa

  1. Data yang dibutuhkan

  • Data jumlah penduduk menurut umur dan jenis kelamin

  • Jalur evakuasi

  • Jumlah armada yang dimilki

  • Alat komunikasi

  • TPS dan TPA

  • Peringatan dini

  • Data ternak

  • Jumlah medik

  1. Guna data yang dikumpulkan

  • Memudahkan pelayanan masayaarakat

  • Memudahkan birokrasi

  • Memudahkan data pemilu

  • Memudahkan dalam memutuskan bantuan yang dibutuhkan

  1. Proses pencarian data

  • Partisipatif

  • Mellaui ketua RT , RW dan dukuh

Presentasi kelompok 1 atau sayap kanan

Mart

Monggo dari sayap kanan untuk menjelaskan.

Adrian (kelompok 1 atau sayap kanan)

Untuk apa yang telah menjadi diskusi bersama kami tentang peran SID pra bencana. Pada waktu kondisi tenang bermanfaat untuk mengetahui potensi, yang ke dua sebagai basis data kependudukan, selain itu juga sebagai basis data untuk pelayanan publik. Untuk saat bencana juga sangat bermanfaat yaitu ada pendataan pengungsi, dilokasi mana, kita tinggal melihat pengungsi desa kami itu berapa, berdasarkan umur dan kelompok rentan dan distribusi bantuan juga akan mudah. Karena data yang lengkap akan memudahkan pendistribusian. Pasca bencana kita bisa mengetahui data-data untuk perencanaan pembangunan pasca bencana. Itu juga terkait dengan data distribusi bantuan dan data kerusakan. Pasca bencana SID juga bisa sebagai verifikasi data, mungkin ada ternak yang selain kependudukan nanti bisa diverifikasi kebutuhan masayaarakat dari desa tersebut. Dengan SID ini pembangunan pasca bencana akan lebih tepat sasaran dan tidak menjadi bencana baru dimasayaarakat, karena kalau tidak tepat sasarannya nanti bisa jadi bencana baru. Pemulihan bisa mengadopsi dari data dari SID. Data yang dibutuhkan yaitu data kependudukan yang sudah komplit dimonografi, data asset (ternak, lahan rumah) saat terjadi atau pasca kita dengan mudah mendapatkan datanya, evakuasi dan jalur evakuasi, sangat penting lokasi/tittik-titik yang sudah terpetakan dalam mengevakuasi pada warga. Fasilitas sosial dan umum yang bisa dimasukkan dalam SID. Proses pencarian data dengan mengumpulkan data kependudukan, kalau yang lebih akurat langsung ketingkatan RT menggali data bersama, kalau yang sudah ada program rekompak desa itu akan memiliki peta. Apa yang dilakukan setelah data terkumpul bisa menjadi atau untuk up date berkala jadi akurasi data kependudukan. Untuk perencanaan pembangunan data itu menjadi sumber penting dalam perencanaan pembangunan. Dengan adanya data tersebut bisa mendidik para pejabat desa untuk menyodorkan data tersebut ke SKPD. Di pemilu pun akn sangat berguna, untuk evaluasi ini terkait dengan perencanaan pembangunan sejauh mana perkembangan. Demikian diskusi disayap kanan. Mohon maaf yang sebasar-besarnya.

Rusmiyatun (kelompok 2 atau sayap kiri)

Peran sid terutama untuk mengetahui jumlah penduduk , bisa melihat potensi kerentanan yang ada di desa, selanjutnya dalam kondisi darurat membantu memberikan data, untuk mengetahui peta desa dan peta sosial.

Pra bencana mengetahui data penduduk kelompok umur, alat komunikasi, tempat oengungsian, ada data untuk ternak, jumlah tenaga medik yang diperlukan untuk penanganan. Bagaimana proses mendapatkan data yaitu melalui rt, rw.

Mart

Ada dua poin yang menarik soal kembali lagi pemilu. Soal tadi data yang dibutuhkan, soal bagaimana menggali data. Ini untuk kroscek kebenaran data untuk validasi data. Soal memudahkan layanan masayaarakat. Dalam proses perencanaan pembangunan tentunya sudah disebutkan disini.

Rinto

Sedikit tambahan ceritanya, saya bawa cerita dari desa sirahan magelang, mereka sudah punya SID, sudah diinstal di balai desa tapi ternyata komputernya dicolong, apa akibatnya seluruh data yang ada di komputer hilang. Pada saat itu semua panik, ternyata yang namanya sistem itu kan ada input dan out put, yang namanya sistem tetap bisa menjaga dirinya. Ternyata dari cerita sirahan SID itu punya cara bertahan dari gangguan yang berasal dari luar dan punya back up di web. Data itu bisa diambil lagi di web dan diinstal lagi di sirahan. Andaikan kondisi maling itu kita ibaratkan dengan bencana maka data-data itu bisa diselamatkan. Sayaarat sistem yang lain adalah dia bisa memperbaiki dirinya. Misalkan mayangsari yang 10 tahun dulu berumur 4 tahun apakah hari ini dia tetap berumur 4 tahun, dan tentunya tidak jadi sistem ini sudah otomatis umur si mayangsari sudah menyesuaikan dengan tahun sekarang. Satu kisah penutup, warga sirahan adalah warga yang mendapat pengganti rumah dari lahar hujan, warga sirahan dilihat dari data ternyata ada status menikah atau tidak yang dapat adalah sudah menikah misalnya …beberapa tantangan soal menjaga agar sistem itu terus hidup perlu dipikirkan jika misalkan komputer rusak apakah ada alokasi anggaran di APBDes, kira-kira gitu mas tambahannya.

Mart

Tantangan satu lagi adalah kalau lurahnya ganti. Saya rasa itu tema-teman pertemuan kita saya berharap hasil itu bisa dishare

Jainu

Yang saya lakukan itu SID kan untuk kependudukan dan yang lain belum maksimal, kalau sistem kependudukan ini sudah lengkap di SID. Apalagi diskusi malam ini kalau 3 lembar hasil diskusi itu masuk ke SID.

Adrian

Tentang kerentanan potensi bencana ini dikombinasikan dan bisa memperlihatkan rawan bencana ini akan sangat lebih menarik lagi. Ketika kita menghadapi bencana kita sudah bisa memperkirakan, jadi peta-peta spasial rawan bencana itu bisa diperlihatkan.

Mart

Intinya kalau peta desa ini bisa menunjukkan. Teman-teman saya rasa saya harus mengakhiri diskusi ini. Karena akan tidak manusiawi kalau saya teruskan. Saya harus memberikan waktu 5 menit kepada mas Humam. Monggo

Humam

Membagikan buku panduan tentang SID dari UNDP dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada peserta.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama COMBINE Resource Institution dan Perkumpulan IDEA dengan dukungan Ford Foundation dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.