GREGET DESA – 13 Desember 2013

Fasilitator: Achmad Darojat dan Asrofi (SPPQT)
Tempat: SDN Doga, Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul
Pukul: 14.30 – 17.00

Pertanian adalah salah satu bidang terpenting dalam kehidupan perdesaan. Pada sisi lain, potensi ini bisa relatif menurun, baik kuantitas maupun kualitas pengelolaannya. Perlu ada langkah untuk mendukung manajemen pertanian yang lebih tepat guna. Data desa bisa digunakan untuk menguatkan proses tersebut, terlebih jika data desa bisa memuat potensi hingga ke tingkat keluarga. Tim Serikat Paguyuban Petani Qaryyah Thayibah (SPPQT) Salatiga yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia pertanian akan membantu peserta untuk memahami langkah-langkah membangun sektor pertanian dengan dukungan SID.

  • Pemanfaatan SID tidak hanya digunakan sebagai pengumpulan data, tetapi data tersebut juga akan diolah untuk pengambilan keputusan dan kebijakan pemerintah.

  • Melihat permasalahan pertanian, juga harus melihat petani dan persoalan umum tentang pertanian di Indonesia. Kemudian akan dilihat solusi apa yang mampu dilakukan untuk menangani permasalahan tersebut.

1.) Asrofi – Masalah Umum Petani di Indonesia:

  • Pertumbuhan alih fungsi lahan pertanian menjadi industri dan perumahan.
  • Meningkatnya masyarakat yang beralih pekerjaan karena pertanian tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan. Misalnya dengan menjadi TKI atau pedagang.
  • Menjadi petani tidak menjamin kehidupan yang lebih baik, sehingga warga mendorong generasi muda untuk keluar dari sektor pertanian.
  • Pemahaman tersebut mengakibatkan generasi muda menjadi semakin jauh dari pertanian.
  • Penguasaan lahan petani terus berkurang.
  • Petani semakin terpuruk, diperparah dengan tidak adanya keberpihakan pemerintah kepada petani.
  • Kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan UU Pokok Agraria yang bertumpu pada produksi skala besar.
  • Monopoli penguasaan tanah skala besar yang merugikan petani.
  • Masuknya hasil impor pertanian sehingga menyisihkan produk petani dalam negeri.
  • Ketidak mampuan pengolahan pasca panen, karena Kementan tidak peduli kepada petani berkenaan dengan kemampuan olah pasca panen.
  • Teknologi pertanian yang tidak berkembang.
  • Subsidi pertanian yang salah sasaran, kebanyakan justru dinikmati oleh pengusaha pupuk dan benih. Pupuk dan benih olahan petani sendiri tidak mendapat subsidi sedikitpun.
  • KUR tidak dapat diakses oleh petani karena dianggap sebagai resiko besar dalam usaha tani.
  • Program bantuan pemerintah kebanyakan hanya diakses oleh elit desa.
  • Sistem pendidikan yang salah arah, sebagai negara agraris, Indonesia seharusnya dapat memaksimalkan pertanian melalui bidang pendidikan. Dunia pendidikan semakin menjauhkan generasi muda dari dunia pertanian. Bukan tidak mungkin aset pertanian yang kita miliki akan dikuasai oleh pihak asing.

Rekomendasi dari Pak Asrofi terkait masalah pertanian:

  • Membentuk organisasi tani untuk menyatukan visi dan misi petani setempat. Perlu ada usaha bersama agar suara dan pendapat petani dapat didengar oleh pihak-pihak yang berwenang.
  • Membentuk koperasi petani.
  • Distribusi lahan, agar pengelolaan tanah terlantar bisa maksimal.
  • Penyediaan teknologi tepat guna.
  • Pertanian organik yang terintegrasi dan berkelanjutan.
  • Menegakkan kedaulatan pangan.
  • Peningkatan kapasitas petani dalam hal budiddaya maupun manajemen.
  • Peningkatan kualitas pendididikan anak-anak petani, agar tidak putus sekolah dan tetap melestarikan budaya di sektor pertanian. Agar tetap mempertahankan kepribadian bangsa.

Rekomendasi dari Pak Asrofi terkait SID:

  • SID harus bisa memetakan persoalan petani lokal, mengunggah isu bersama.
  • SID sebaiknya mampu memetakan potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh petani setempat.
  • Mengunduh solusi bersama.
  • Bagaimana data digunakan sebagai alat untuk menunujukkan dan mengadvokasi agar hal-hal yang tidak pas bisa disesuaikan, persoalan bisa diselesaikan.

2.) Ahmad – Terobosan Kegiatan sebagai Solusi Permasalahan

  • Di Salatiga sudah diterapkan kegiatan Lumbung Sumber Daya, yaitu kegiatan atau program yang berfokus pada pengumpulan/penyimpanan sumber daya pada masyarakat untuk dapat dibagikan kepada pihak yang membutuhkan, maupun untuk digunakan secara kolektif.
  • Kaitannya dengan SID, SID bisa mengkategorikan masyarakat menjadi 4 golongan: Kaya, Cukup, Miskin, Sangat Miskin. Melalui Lumbung Sumber Daya, masyarakat desa juga bisa memetakan potensi sendiri. Dan warga dengan kategori mampu bisa membantu yang tidak mampu.
  • Konsep Lumbung Sumber Daya lebih menekankan pada warga yang punya aset berlebih membantu warga yang “di bawah” melalui sumber daya yang dia miliki. Bukan memberi, melainkan dengan meminjamkan. Semakin banyak sumber daya dari golongan atas yang dipinjamkan, masyarakat golongan “bawah” semakin terstimulasi untuk terus mengembangkan kemampuan usaha; yang semuanya diharapkan dapat membangun masyarakat dalam hal produksi dan edukasi.

  • Harapannya, dengan SID, terobosan tersebut dapat menjadi lebih sistematis dan tertata dengan rapi. Selain itu, semua masalah yang muncul di desa harus bisa diatasi oleh masyarakat desa itu sendiri.

  • Akan ada banyak hal yang bisa muncul dari SID, seperti: SID akan bisa mengarah pada Zakat Desa. Konsepnya mirip seperti Lumbung Sumber Daya, hanya sifatnya lebih pada memberi dan sifatnya wajib bagi masyarakat golongan mampu, bukan meminjamkan.

  • Zakat Desa tersebut akan dapat lebih efektif dengan adanya data yang baik. Pendataan yang tidak baik akan menimbulkan masalah-masalah lain, seperti bantuan tidak tepat sasaran hanya karena rasa tidak suka atau hal lain.

  • Selain Lumbung Sumber Daya, ada juga sekolah alternatif dan pertanian organik yang terintegrasi (POI). Konsep utamanya petani tidak memerlukan modal apapun dalam melakukan budidaya, tidak pupuk, tidak benih. Hanya saja pelaksanaannya hingga sekarang ternyata belum maksimal. Kendalanya petani takut dengan POI karena beras produksi POI harganya mahal, sehingga takut tidak laku.

3.) Sesi Pertanyaan dan Diskusi

a.) Sekolah Alternatif

  • Penanya : Tadi disebutkan mengenai sekolah alternatif, tolong dijelaskan dengan lebih rinci tentang itu?

  • Jawab (Ahmad) : berawal dari kekhawatiran orang tua yang enggan menyekolahkan anak ke kota karena takut anak-anak kehilangan akhlak, akhirnya sepakat membuat sekolah sendiri. Dari 30 orang tua yang memiliki anak yang duduk di bangku kelas 6 SD, yang setuju untuk membuat sekolah sendiri hanya 12 orang, sisanya tidak setuju karena khawatir akan kualitas pendidikan. Para orang tua yang setuju tadi sepakat untuk mengerahkan semua kemampuan untuk mewujudkan sekolah dengan kualitas yang baik. Sekolah di desa tapi kualitas tidak boleh kalah dengan sekolah kota. Banyak hal yang dipersiapkan untuk mencapai hal tersebut, seperti: tenaga pengajar, fasilitas, prasarana, dll. Akhirnya mereka mengerahkan tenaga pengajar setempat, dari lulusan perguruan tinggi, dan tokoh setempat. Segala hal peraturan disepakati oleh orang tua dan anak. Anak-anak yang memilih sendiri mau belajar apa. Intinya mereka tidak mau kalah bahkan harus lebih dari anak kota. Uang saku anak-anak disisihkan untuk beli komputer, buku, dan perbaikan gizi. Semangat tinggi karena semua sumber daya berasal dari warga dan anak sendiri, untuk kepentingan mereka sendiri dan kebaikan bersama. mereka tidak mempedulikan campur tangan pemerintah, yang penting semua berjalan lancar.

b.) Tentang Fungsi, Peran dan Keberlanjutan Program SID

  • Penanya (Perwakilan dari Panggang): di desa saya sekolah alternatif tidak perlu, karena sekolah sudah banyak. Persiapan SDM memang perlu, tapi juga perlu membahas masalah yang lain, karena SDM kita sudah cukup baik dan mampu. Hanya saja, edukasi untuk pemanfaatan teknologi masih kurang. Jadi bagaimana kita mendorong untuk membuat pengarahan khusus dalam kurikulum tentang pemanfaatan TI agar tidak digunakan untuk hal yang sia-sia. Bagaimana kita mengaplikasikan pertanian ini dalam sistem desa, yang ke depannya dapat menjadi pentunjuk awal bagi desa wisata misalnya. Bagaimana kita mendorong pembelajaran sistem informasi menjadi lebih bermanfaat? Mengelola sumber daya pertanian desa melalui sistem informasi yang baik, sehingga potensi dan sumber daya desa bisa diakses oleh pihak luar dan membawa manfaat bagi masyarakat desa.

  • Jawab (Ahmad): mungkin itu juga menjadi harapan teman-teman di CRI. Kewajiban dari adanya data adalah aksi selanjutnya untuk menindaklanjuti permasalah yang ada.

  • Penanya (Perwakilan dari Panggang) : saya setuju itu, untuk menghindari ketimpangan-ketimpangan itu kita memang harus berbagi.

  • Ahmad : kewajiban dari munculnya data adalah aksi-aksi berikutnya yang harus dilakukan, bukan dari data kemiskinan itu terus dieksploitasi untu kepentingan tertentu.

  • Penanya (Perwailan dari Panggang) : tapi memang kalau saya lihat, sekarang ini kemiskinan memang dieksploitasi. Misalnya tidak ada orang miskin maka tidak akan ada bantuan.

  • Ahmad : itu menyedihkan, karena dengan demikian kemiskinan akan dipertahankan, akan selalu ada, dan akhirnya kemiskinan tidak akan pernah selesai kalau paradigmanya masih begitu.

  • Penanya (Chia ACE) : sangat senang dengan diskusi ini, apa yang menjadi persoalan mendasar petani, selain yang sudah disampaikan tadi. Lumbung Sumber Daya realistis dan mungkin dilakukan, jika konsep tanggung pinjam itu baik. Seperti apa sebenarnya gambaran tentang Lumbung Sumber Daya yang pernah dilaksanakan? Kita harus bicara SID seperti apa yang bisa mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan atau apapun yang dibutuhkan petani, SID bisa mendukung petani itu jelasnya seperti apa? Itu tidak jauh beda dengan profil desa ya, apa yang bisa dilakukan? Bisa mendukung petani di desa untuk dapat mempertahankan pertaniannya, saling berbagi mengenai hal-hal teknis pertanian. Berkaitan dengan posisi desa di tingkat daerah atau nasional, kelebihan apa yang bisa kita dapatkan dari SID ini?

  • Penanya (Perwakilan dari Panggang) : informasi itu ada pembuat dan penerima informasi, ketika ada kelompok tani yang usul pada pemerintah, tapi pengelolaan usulan menjadi berbeda. Siapa yang akan melihat informasi dari kita SID ini? Apakah decision maker akan benar-benar melihat dan menangkap data kita? Jangan sampai data sudah baik tapi tidak ada yang memperhatikan atau bahkan hingga disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

  • Penanya (Chia ACE) : SID pertanian menarik, hal yang pertama dilakukan adalah pemetaan wilayah; kemudian kedua, pembagian peran; ketiga, sasaran SID itu siapa? Keempat penerima manfaat terkait produsen konsumen, dan lainnya, bukan hanya produk, tetapi daya tarik nilai lebih apa yang bisa muncul dari SID? Apakah akan mendukung sektor-sektor lain? Ada daya tarik nilai lebih yang bisa kita petakan sekarang? Minimal ada hal-hal yang harus terpenuhi, ada gambaran dan tujuan dari informasi desa itu sendiri.

  • Penanya (Sarwono Suara Komunitas): Lumbung Sumber Daya sangat bagus bila bisa dikerjakan. Harapan kita kan bisa mengurangi biaya produksi dan meningkatkan nilai lebih. Berkaitan dengan informasi, media apa yang bisa digunakan? Bisa dengan pertemuan langsung, atau dengan buletin, aau yang paling banyak digunakan sekarang adalah lewat radio komunitas. Sistem SID itu apakah bisa mengakomodasi sumber daya secara keseluruhan, sekarang kan baru berupa angka. Kegiatan tidak harus pendataan, tapi juga yang meliputi pemeliharaan fasilitas. Selain itu, bisa juga dengan Lumbung Tenaga Kerja seperti yang dilakukan teman-teman di NTT. Mengenai tenaga kerja, pihak yang punya aset lebih bisa saling bertukar giliran menjadi tenaga kerja. SID perlu dibicarakan langsung kepada orang-orang yang memegang sistem IT nya, agar dapat lebih mudah dimanfaatkan. Tentang media, dapat berupa radio, buletin maupun yang lain, dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya.

  • Penanya (Perwakilan dari Temanggung): sudah memanfaatkan SID, pemerintah dan BPS sudah melihat langsung. KK berbasis SID sangat bagus. Sensus pertanian akan lebih baik dengan SID, apalagi digabungkan dengan data kependudukan.

  • Penanya (Perwakilan dari Panggang): sementara ini SID baru memasukkan data siapa punya apa. SID sudah memakai AKP, sementara baru memasukkan data keluarga, desa mengaplikasikan kategorisasi warga dalam hal kemiskinan. Hanya untuk pemetaan saja, ke depannya semoga ada satu nilai lebih dari SID tersebut. Pengaplikasian SID ini seperti apa? SID sebagai pioneer mau dikembangkan seperti apa? Sumber daya manusia yang mengelola juga harus baik? Setelah berjalan, siapa yang akan menangkap dan memanfaatkan data tersebut? Mengurangi laporan tertulis ke kabupaten. Pemerintah bisa langsung akses ke website desa yang berbasis SID tadi. Siapa yang bertanggung jawa mengembangkan SDM itu tadi? Yang mengarahkan siapa? Beberapa pihak yang membidangi seharusnya ikut kita (acara ini). Dari forum seperti ini harus ada aksinya.

  • Ahmad: hal yang cukup penting, terlepas dari SID kedepan bagaimana, pemrintah bgmana, kita harus berpikir bahwa desa punya potensi. Bagaimana kita yang ada disini terus berpikir apa yang ada di desa bisa kita manfaatkan dengan baik

  • Penanya (Sarwono): beberapa pemikiran ini perlu diakomodasi menadi satu rekomendasi akan ditindaklanjuti seperti apa. Bagaimana mengakomodasi media, yang sudah kita dapatkan tidak hanya kita saja yang tau

  • Penanya (Chia) : Bagaimana pembiayaan SID ini? Saya khawatir, pemikiran cemerlang kita ini akan sulit untuk diaplikasikan di desa. Karena mungkin ada anggapan orang sudah miskin masih disuruh membiayai sistem ini lagi. Apakah ini nanti masuk kedalam ADD?

  • Penanya (Perwakilan dari Panggang) : untuk pengembangan produk SID dimasukkan dalam anggrana daerah, nanti pembiayaan tidak tergantung pada LSM saja, karena mereka ada masa kerjanya. Kalau mereka berhenti nanti yang sudah dilakukan sia-sia. Sehingga kita harus beri rekomendasi dengan memaukkan dalam APBDes.

  • Perwakilan Combine: SID hanya sebuah alat, menjadi bagian dari pembangunan kemandirian desa. Hal tersebut pengaruhnya kurang dari 25% jika tidak ada yang mengembangkan, tetapi sebelum dikembangkan mau diapakan dulu?

  • Penanya (Chia) : Rekomendasi pembiayaan SID; SID harus memberikan nilai positif nilai lebih dari sebuah sistem informasi, bagaimana ini bisa diakses oleh siapapun dan tahu nilai lebih, sebagai sistem pemasaran desa yang menonjolkan nilai lebih, sebagai alat promosi desa untuk memberi informasi kepada khalayak umum. Jadi ada dua fungsi SID: pertama berfungsi sebagai informasi struktural teritori desa, kedua sebagai fungsi marketing desa.

  • Penanya (Perwakilan dari Panggang) : SID di tempat kami sudah bisa menampilkan data yang sebenarnya dan digunakan sebagai rekomendasi untuk pembenahan data. AKP dijadikan fondasi alat pengentasan kemiskinan desa. Yang penting aksinya dan kita mau berbuat.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama COMBINE Resource Institution dan Perkumpulan IDEA dengan dukungan Ford Foundation dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.