GREGET DESA – 13 Desember 2013

Fasilitator: Hernindya Wisnu Adjie (SIAR)
Tempat: SDN Doga, Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul
Pukul: 19.30 – 21.00

Informasi komunitas pada banyak hal juga termasuk sebagai informasi publik yang dikelola secara mandiri oleh komunitas. Komunitas memiliki daya dan kemampuan untuk mengelola pengetahuan dan informasi yang penting dan dibutuhkan. Selain itu, informasi yang dikelola secara mandiri dan terbuka dapat mendorong komunitas tersebut semakin akuntabel pada beragam ranah. Media komunitas akan menjadi salah satu bagian penting yang akan berperan dalaam proses ini.

Daftar Hadir Peserta Workshop:

No

Nama

Alamat dan lembaga

1. Hernindiya Wisnuajie (Ajie) Siar (fasilitator)
2. Nursaid Temangung dari pemdes
3. Bowo supriono Temangung dari Pemdes
4. Hajar Muntilan dari Pemdes
5. Tofiq Kandangan Temanggung
6. Suwarno Radio komunitas Hanacaraka FM
7. Gopek Radio Komunitas Angkringan
8. Reki SPP Kab. Ciamis
9. Abdul Rahman (Abi) Radio Komunitas KFM
10. Partini Kebumen
11. Purwanto Kebumen
12. Imam Setiyadi IDEA Yogyakarta

.

Ajie: saya cocokan  ouput, sebab panitia tidak memberikan batasan diskusi malam ini, sebab isu ini baru bagi di teman-teman  komunitas. Output satu, berbagai praktek baik pengelolan sistem informasi kita eksplor.  Bagaimana model transparansi penggelolan informasi yang baik dan pas bagai komunitas. Harapan kita bagaimana setelah acara greget desa, teman-teman kembali kedesa bisa membuat model transparansi penggelolan informasi. Siar awal berdiri awal hanya dimulai dari 4 radio komunitas, sekarang siar sudah mempunyai jaringan di 23 radio komunitas, 2 bulletin cetak dan 1 TV komunitas. Dimensi pengembangan informasi menjadi sebuah system. Bagaimana insisiatif local bisa berkembang dan semoga tahun depan menjadi banyak cerita tentang inovasi. Saya malas diskusi dimulai dengan regulasi, tapi diskusi ini menjadi penting di mulai dari regulasi. (powerpoint)

adopsi  sudah 65 tahun, ada UU 14  tahun 2008  tentang ketebukan informasi publik di pasal satu (Powerpoint)

pemantik kedua Badan publik (powerpoint)

pemantik ketiga PPID di UU 14 th 2008 ada penyebutan PPID (powerpoint),

Badan Publik dan PPID sebagai pintu masuk untuk eksplorasi, dari dua tadi disekeliling bapak/ibu sekalian badan pubilk yang ada di sekitar bapak-ibu apa sajaDesa, sekolah, koperasi, LSM. Lembaga yang menerima APBD, APBD dan sumbangan masyarakata atau dari luar negeri. Dari lembaga yang ada di sebutkan tersebut apakah sudah ada PPID, secara umum setelah dua tahun undang-undang di sahkan wajib melaksanakan. Apakah di komuitas PPID sudah di kenal di masyarakat? Sebenarnya ada bebrapa jabatan yang sudah melekat pada fungsi-fungsi seperti humas identik dengan informasi, sekertaris identik dengan dokumentasi, di lembaga non pemerintah seperti kelompok tani kopersi belum mengunakan PPID. Kenapa PPID penting?

Larno: agar anggota mudah mengakses informasi

Ajie: banyak kejadian humas banyak ngomong tapi tidak mempunyai data, sedangkan yang punya data tidak pernah ngomong. Apakah dilingkungan bapak-ibu ada pengalaman tentang tumpang tindih peran informasi dan data?

Bowo : kewenagan PPID punya kewenangan besar dalam tupoksi, saya melihat akan kesusahan karena semua data ada di sana dan jika ini diterapkan akan kesusahan dalam prakteknya, tapi enak dalam pengucapanya PPID.

Ajie: saya ingin memberikan penekanan “atau organisasi non pemerintah yang dananya bersumber pada Anggaran Pendapata Belanja Negara dan atau Anggaran Pendapatan Belanja Daerah sumbengan masyarakat atau luar negeri, penekannya adalah layanan informasi. Saya yakin lembaga komunitas yang kita bangun ini ingin maju ekspansif jangkauannya semakin luas. Saya punya pengalaman mendampingi kelompok tani yang awalnya tidak di perhitungkan kami belajar ke beberapa daerah pernah belajar ke SPP Garut, punya media komunitas kemudian berjejaring dan berproses sampai mendapat dana dari kanan kiri, kemudian menang kalpataru, menjadi desa pertama yang inventarisasi karbon yang pertama di dunia, menerima duit dari BLU dan rentang waktunya relative pendek selama delapan tahun, saya bisa bercerita sebab saya bareng dengan mereka dari awal. Sekarang para aktivisnya sekarang mulai payu untuk mengisi di sana sini. Pada awalnya belum punya bayangan bisa sampai seperti ini, sama seperti dengan Pak Bowo tadi PPID susah di bayangkan, ya itulah amanat undang-undang, mempunyai konsekuensi untuk di jalankan, tahu atau tidak tahu wajib menjalankan. Jika lembaga menerima surat ada yang meminta data dan dalam jangka 10 hari tidak menjawab, kemudian di laporkan ke Komisi Informasi Daerah lembaga tersebut siap di panggil. Diskusi ini saya tidak ingin terjebak di sana, tapi ini sebagai ajakan bagi komunitas untuk menggelola informasi dan data secara baik. Dalam UU KIP ada konsekuensinya, jika lembaga kita besuk-besuk besar, kita dapat berjejaring dengan teman yang lain, kemudian mendapatkan dana dari banyak tempat. Pada vase awal pengelolan PPID terasa berat,  Memang jika di komunitas menggunakan kata “Pejabat Pengelola Informasi jadi kurang pas karena di kata “Pejabat” sebab kata “Pejabat” itu konotasinya orang terpandang, punya mobil pejabat dll. Adakah pengalaman adari bapak-ibu bisa berbagi cerita pengalaman mengelola informasi di komunitas kita?

Reki: eksekutif mungkin lebih siap dalam pengeloalan PPID, sementara organisari rakyat seperti SPP tidak punya struktur yang lengkap. SPP dalam pngelolan informasi dengan metode musyaarah yang di lakukan oleh pendamping. Jadi lebih banyak informasi yang di berikan secara ngobrol non formal, sebab jika dilkukan dengan metode formal relative lebih susah, dan kecederung kaku, sehingga sering tidak mudah di terima oleh angota SPP.

Ajie: manusia mempunyai ketebatasan dalam memory, bagaimana pengelolan distribusi informasi.

Reki: jika metode yang perna kita lakukan informasi di berikan kepada ketua OTL, tetapi seringnya tidak sampai ke anggota. Maka kita rubah informasi di informasikan ke kelompok2 dan di lakukan musyawarah.

Purwanto : dengan metode notulensi sebagai pendokumentasian tergantung jika kemamuanya di ramkum atau di tulis semua

Tofiq: awal kita jika ada yang meminta informasi data yang kami berikan kira2 saja, tapi sejak ada SID kita dibantu, dan informasinya lebih akurat.

Ajie: SID membantu mendokumentasian mana yang bisa dipublikasikan mana yang dalam proses dipublikasikan. Walau pengelolan informasi tidak lah mudah.

Nursaid: informasi itu siapa saja bisa mengakses dan bagian pertangungwaban dalam pengelolan informasi atau kegiatan.

Ajie: teman2 yang mengelola SID online, apakah data individu di publis lewat internet? Tentunya ada yang di tutup. Dulu dokumen tidak terlalu penting hanya di letakan di rak, sekarang ada lompatan dimana informasi itu menjadi penting setelah ada SID dokumen dan informasi menjadi penting, dulu otoritas ada staekholder saja. Dari pertemuan di greget desa ini bagaimana cita-cita teman-teman dalam pengelola informasi ke depan atau visi kedepan yang bisa di jadikan modeling. Sebagai contoh di tepat mas Gopek di angkringan dapat menciptakan MK-16 dengan model SMS komunitas, dengan model jika ada informasi yang dinggap penting di berluaskan akan membrosc ke suamua nomer yang sudah di simpan ±3.000 warga. Ini salah satu contoh inovasi yg di lakukan. Informasi belum di letakan dalam ranah individu, berhak tahu, ini kata kunci dari pengelolan informasi. Modelinag apa yang bisa dibangun bareng-bareng dalam pengelolan informasi komunitas?

Nursaid: membangun kesadaran kritis atas informasi.

Riki: pengelolaan informasi sebagai analisis sosial (progess komunitas)

Ajie: kecendrungan masnusai itu meniru, saya mengenalkan istilah baru “pengelolan Pengetahuan” mengumpulkan paraktek baik yang ada di masyarakat,

Nursaid: membangun sitem informasi

Ajie: dalam pengeloan informasi ada batasan,batas bawah dan batas atas, jangan sampai semua informasi di masukan seluruhnya. Bagaimana tawaran dari 4 rekomendasi ini bagaimana perkembanganya dalam 1 tahun kedepan, semoga di tahu depan jika ada rezki ada perkembanganya,
Nursaid: pertemuan ini sangat menarik tetapi ketika pulang kerumah semnagat hilang sebab SDM dan budaya yang ada kurang mendukung. Maka kami butuh bantuan dari CRI dan IDEA untuk membantu sebab jika dari LSM berbeda caranya dan mudah diterima warga.

Ajie: Jadi itu pentingnya berjejaring dengan teman yang lain. Kelas kita harus koma, semoga tahun depan kita bisa bertemu lagi dan 4 agenda ini ada perkembanganya. Dan inovasi menjadi kata kunci. Ok teman-teman terimakasih atas pilihan dalam kelas ini, semoga kita bisa ketemu tahun depan. Terimakasih, selamat malam.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama COMBINE Resource Institution, Perkumpulan IDEA, dan SIAR dengan dukungan Ford Foundation dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.