Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Jawa Tengah saat ini tengah menggelar program pembentukan Desa Tangguh. Pengembangan desa tangguh ditujukan untuk mendorong peran serta masyarakat desa dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Pati. Isu bencana utama bencana dalam konteks ini adalah ancaman banjir di sekitar Sungai Juwana. Program ini dimunculkan sebagai wujud tindak lanjut evaluasi atas pengalaman penanggulangan bencana banjir pada Januari 2014 yang berlangsung kurang maksimal. Masih banyak aspek pada setiap fase bencana yang belum dipahami dan diperhatikan selama ini.

Pada tahap awal ini, BPBD Kabupaten Pati menunjuk enam desa percontohan yang disiapkan melalui seri pelatihan Desa Tangguh. Keenam desa itu meliputi:

1. Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus
2. Desa Kosekan, Kecamatan Gabus
3. Desa Babalan, Kecamatan Gabus
4. Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan
5. Desa Sugiharjo, Kecamatan Pati
6. Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo

.

Sistem informasi Desa (SID) menjadi salah satu materi yang diperkenalkan kepada perwakilan pemerintah desa dan Kader Desa Tangguh peserta program dalam sesi Pelatihan Kader Desa Tangguh Bencana yang diselenggarakan pada tanggal 26 – 28 November 2014 di kantor BPBD Kabupaten Pati. Gagasan pengenalan SID untuk menguatkan kapasitas tim desa dalam pengelolaan data untuk konteks penanggulangan bencana ini diawali oleh komunikasi antara BPBD Kabupaten Pati dengan tim Merapi Recovery Response (MRR) UNDP dalam satu pertemuan di Semarang. Tim MRR UNDP kemudian mengkomunikasikan gagasan dan undangan BPBD Kabupaten Pati ini kepada COMBINE Resource Institution (CRI) sebagai pengembang dan fasilitator utama SID untuk turut hadir dalam sesi pelatihan ini.

Elanto Wijoyono dari CRI dan Mart Widarto dari MRR UNDP hadir memenuhi undangan BPBD Kabupaten Pati sebagai fasilitator pelatihan SID. Sesi pelatihan SID tahap awal atau pengenalan ini ada pada hari terakhir pelatihan pada 28 November 2014. Sebelumnya, selama dua hari, Yayasan Sheep Indonesia telah mengisi sesi pelatihan pemetaan ancaman, penilaian risiko bencana, hingga penyusunan rencana kontinjensi penanggulangan bencana desa. SID diperkenalkan pada sesi hari ketiga untuk melengkapi materi dua hari sebelumnya pada aspek tata kelola data dan informasi untuk penanggulangan bencana. Sebagai perkenalan, SID tidak dijelaskan hingga terperinci aspek teknisnya, kecuali memahamkan prinsip-prinsip dasar. BPBD Kabupaten Pati siap untuk belajar aspek filosofis dan teknis SID langsung ke CRI sebagai langkah mempersiapkan diri sebagai fasilitator penerapan SID di Kabupaten Pati dalam konteks manfaat ini.

Selain melakukan praktik langsung langkah-langkah instalasi dan penggunaan aplikasi SID versi 3.04, sejarah dan konsep pemanfaatan SID juga menjadi bahan yang disampaikan oleh fasilitator kepada peserta pelatihan. Kisah lahirnya SID yang antara lain diawali dari pengalaman desa-desa yang memiliki ancaman bencana, seperti Desa Balerante di lereng Gunungapi Merapi dan Desa Terong di Bantul yang rawan gempa, menjadi kunci untuk memahamkan hubungan SID dengan konteks penanggulangan bencana. Skema penerapan SID dalam sebuah jejaring komunikasi pembangunan antar desa dan antara desa dengan kabupaten, seperti yang terjadi di Temanggung, Magelang, Kebumen, dan Gunungkidul, juga dipaparkan sebagai contoh kasus rujukan yang bisa dipelajari lebih lanjut oleh desa-desa dan BPBD Kabupaten Pati. Hubungan komunikasi data dan informasi antar desa dan antara desa dengan kabupaten ini sangat penting perannya dalam memperkuat kapasitas para pihak dalam tahap-tahap penanggulangan bencana. SID, sebagai sebuah alat, sangat terbuka untuk dimanfaatkan dan dioptimalkan mendukung inisiatif tersebut.

(Elanto Wijoyono)