Yogyakarta, SK – Firda tampak sibuk menggerak-gerakkan kedua tangan dan jemarinya untuk menjelaskan pada kedua temannya, Kiki dan Aris tentang Sistem Informasi Desa (SID). Dengan serius, Kiki dan Aris melihat gerakan tangan Firda sambil menengok tayangan di layar depan dan sesekali menanggapi penjelasan Firda dengan bahasa isyarat pula.

“Saya sudah pernah membaca tentang adanya sistem informasi untuk warga di perkuliahan saya. SID ini bisa menjadi pengetahuan untuk mendukung kuliah saya,” aku Aris, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu universitas swasta di Yogyakarta seperti yang dijelaskan oleh penerjemahnya, Firda.

Kiki dan Aris adalah mahasiswa difabel tuna rungu, sementara Firda adalah mahasiswi Universitas Islam Negeri Yogyakarta yang sering menjadi penerjemah bahasa isyarat untuk tuna rungu. Ketiganya tergabung dalam Deaf Art Community (DAC), sebuah komunitas yang menaungi para Difabel Rungu (Tuli) di Yogyakarta. Mereka ikut berinteraksi dalam dialog interaktif bertajuk Sistem Informasi Desa (SID) dan Media Komunitas dalam gelaran Islamic Book Fair ke-23 di GOR Universitas Negeri Yogyakarta, (6/4). Selain mengajak komunitas DAC, dialog yang digelar Qwords dan COMBINE Resource Institution (CRI) mengajak beberapa komunitas difabel lainnya dan masyarakat umum.

Irman Ariadi, selaku pembicara dalam dialog tersebut menegaskan, CRI konsisten dengan konsep informasi inklusi di mana semua warga bisa menerima dan membuat informasi. Memberi ruang untuk partisipasi para difabel merupakan salah satu upaya CRI untuk mengimplementasikan konsep tersebut sejak 2014.

“Kami berkomitmen untuk membagi informasi ke semua kalangan. Konsep kami adalah inklusi di mana semua warga bisa menerima dan membuat informasi, salah satunya adalah dengan mengundang teman-teman difabel dalam acara-acara yang kami selenggarakan,” papar Irman Ariadi yang juga pegiat CRI, (6/4).

Dialog interaktif SID tersebut menarik minat masyarakat baik warga Yogyakarta maupun dari beberapa kota lainnya. Mereka mengaku penasaran dengan SID dan tertarik untuk menerapkannya di daerah mereka.

“Minat warga di desa saya untuk mengakses informasi masih kurang. Saya ke sini untuk mencari tahu bagaimana caranya untuk menarik minat warga agar mau mengakses informasi,” ujar Widi, salah satu peserta dialog asal Ponorogo.

SID merupakan sebuah aplikasi open source yang membantu komunitas dan pemerintah desa mendokumentasikan data-data desa, baik kependudukan maupun aset. Aplikasi ini dapat dijalankan baik saat ada sambungan internet maupun tidak ada internet. Saat tersambung internet, aplikasi ini memungkinkan warga untuk mengakses informasi yang ada di desa mereka, termasuk display produk-produk unggulan desa.

Selain mengundang komunitas DAC, CRI dan Qwords juga mengundang beberapa komunitas difabel seperti DMC, Laskar Inklusi, dan lain-lain. Dialog interaktif tentang SID ini juga disiarkan langsung melalui radio streaming di www.suarakomunitas.net. Dukungan Streaming media online di-relay juga oleh Radio SIGAB, Harmoni Radio, dan Radio Teman Museum. (Apriliana)

Tulisan ini dimuat pertama kali pada 8 April 2015 di Portal Suara Komunitas – http://suarakomunitas.net/baca/83034/dialog-interaktif-sid-untuk-semua/