Tim Combine Resource Institution (CRI) pada Rabu (29/04) lalu mengadakan kunjungan ke Desa Dlingo di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta. Kami, 3 orang dari CRI, sekitar pukul 09.00 dan disambut oleh Lurah Desa Dlingo Bahrun Wardoyo. Pertemuan kemudian dilangsungkan di ruang Lurah Desa Dlingo. Tanpa berpanjang kata, kami secara bergantian langsung menyampaikan maksud kedatangkan ke Desa Dlingo, yakni untuk melihat langsung bagaimana praktik dan dampak penerapan SID yang dilakukan secara mandiri oleh Pemerintah Desa Dlingo. Informasi tujuan kunjungan ini sebelumnya juga sudah disampaikan oleh Amrun kepada Pak Bahrun melalui telepon.

Dalam pembicaraan selanjutnya, kami mendapatkan fakta menarik bahwa akses internet yang dipasang oleh Pemerintah Kabupaten Bantul di desa ini dapat dimanfaatkan dengan baik. Sebelumnya, selama 1 tahun, Pemerintah Desa Dlingo membangun akses internet secara swadaya dengan menggunakan jasa Jogja Media Net (JMN). Pak Bahrun menyampaikan pesan kuat sejak awal kenapa Desa Dlingo yang berada di pelosok perbukitan ini bahkan punya inisiatif lebih awal untuk terhubung ke internet sebelum program kabupaten. Menurutnya, motivasi terbesar adalah keyakinan bahwa menguasai informasi itu akan menjadi kita sebagai yang terdepan. Dengan mengelola akses internet secara positif, Desa Dlingo bisa membuktikan bahwa jaringan informasi bisa membuka peluang ekonomi yang semakin besar.

Bahrun menjadi kepala desa atau Lurah Dlingo pada tahun 2012. Pada awal tahun 2013, dia menginisiasi terbangunnya Sasana Anak Muda Dlingo Giriloji Cinta IT (Sandigita). Komunitas ini dibentuk untuk mengarahkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara positif. Kemudina, pada bulan November 2014, Desa Dlingo mengikuti pelatihan SID di KPDT Bantul, sebagai bagian dari program pemerintah kabupaten. SID ini kemudian dilengkapi dengan radio komunitas pada bulan Desember 2014. Radio komunitas ini juga diberi nama Sandigita FM, menempati frekuensi siaran di kanal 107.7 MHz. Selama empat bulan berjalan, radio siaran komunitas ini bisa membantu publikasi program desa secara lebih cepat sebagai pelengkap website Desa Dlingo yang beralamat di http://dlingo-bantul.desa.id. Dampaknya, program desa kini menjadi lebih cepat dan dekat tersampaikan ke warga melalui beberapa pilihan media.

Kantor Desa Dlingo yang memiliki akses internet dikelola dengan strategi menarik. Layanan wifi disediakan untuk publik. Pemerintah desa juga memberikan fasilitas warung angkringan di kantor desa. Setiap hari, dari siang hingga malam, banyak warga yang berkumpul di kantor desa untuk melakukan banyak kegiatan. Aktivitas berlatih kesenian tradisional menjadi magnet warga untuk berhimpun di kantor desa, selain adanya layanan akses internet yang baru saja ada.

Aplikasi SID untuk olah data yang digunakan oleh Pemerintah Desa Dlingo bersifat online. Server berada di KPDT Bantul. Olah data dengan SID sudah rutin dilakukan. Data dasar kependudukan dalam SID menggunakan data dari Dinas Kependudukan dan Catata Sipil Kabupaten Bantul sebagai rujukan awal untuk kemudian dikelola oleh desa. Aplikasi olah data dengan SID di kantor desa dikelola oleh dua operator, yakni Sekretaris Desa dan Staf Pemerintahan Desa. Sementara, website desa diadministratori oleh Pak Bahrun, dengan nama akun ”Banu”.

Pak Bahrun mengaku masih memerluka pelatihan agar bisa lebih memaksimalkan media untuk mempromosikan potensi desa. Dia dan pemerintah desa sedang membuka wacana kepada masyarakat bahwa ”Jangan kita yang mencari uang, tetapi uang yang mencari kita”. Bahrun yakin bahwa orang harus memiliki ilmu dan metode untuk mewujudkan wacana itu. Kini, hal itu mulai menjadi kenyataan. Uang dari pengunjung wisata air terjun Lepo (Ledok Pokoh) di Desa Dlingo adalah salah satu wujud datangnya rezeki. Hal ini menjadi salah satu contoh dampak promosi potensi desa yang dikabarkan melalui website desa, yang berbasis SID, untuk menciptakan sumber dana dari potensi desa yang terdekat.

(Elanto Wijoyono)